Rabu, 25 Maret 2020

Bunga di Semak Belukar

Bunga Mekar di Semak Belukar
Karya : Putri Andini

Berkembanglah sang kembang...
Sendiri di luasnya semak belukar...
Bunga teratai sendiri mengambang...
Teguh, kuat dan berani mengakar...

Sungguh terguncang dilanda sepi...
Sendirian tak ada yang menemani...
Tak ada alasan untuk menguatkah hati...
Karena semua juga yang menyakiti...

Bukan sastrawan maupun cendekiawan...
Hanya seorang gelandangan dengan pengetahuan...
Seorang pengemis yang dermawan...
Seorang individu yang berperasaan...

Akan berdarah terkena duri...
Akan tumbang bila ditebang...
Akan menangis jika disakiti...
Akan kuat jika ada semangat...

Kutuliskan cairan hitam...
Goresannya mewakili batin dan lisan...
Setiap kata tercipta penuh perasaan...
Isinya menyayat hati karena kenyataan...

Memegang kayu keropos untuk menopang...
Rapuh dan terlalu lemah untuk berjuta beban...
Sorot matanya menyiratkan kegelisahaan...
Inilah bunga yang tumbuh di panasnya arang...




Si Kuman yang Berhati Besar


Si Kuman yang Berhati Besar
Karya : Putri Andini

            Aku menghindar saat beberapa sorot mata menatapku rendah. Cacian dan makian adalah makanan sehari-hariku di sekolah ini. Hatiku sakit tentu saja saat mereka memperlakukanku demikian, tapi ada satu alasan yang membuatku ingin bertahan.
“Heh Kuman!” maki seseorang diiringi cacian-cacian lainnya yang kuyakini itu adalah Lano bersama Ares, Iwan dan Ezra.
            Aku berbalik dan menemukan tubuh tinggi tegap yang sedang melipatkan tangannya di dada. Oh, jangan lupakan tatapan sinis itu. Aku dibuat mati kutu hanya dengan tatapannya saja. Hatiku mulai resah jika Lano akan mengurungku lagi di gudang sekolah.
“Masih pake sepatu butut kamu? Sekali miskin ya miskin! Hahahahah!!!” oloknya yang mengundang tawa beberapa teman-temannya. Aku menunduk melihat sepatuku yang sudah koyak kainnya.
“Wihhh!!! Tas si Misqueen baru loh, No!” ujar Ezra heboh sambil menunjuk tas bekas majikan ibuku pada Lano.
Lano melepas tas punggungku dengan paksa, “Cih, palingan dia nyuri!” tuduhnya.
“Kamu nyuri beneran Kuman? Muka sama kelakuan memang sama ya,” kelakar Iwan.
            Air mataku hamper menetes, aku tidak mencuri. Aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu walau keluargaku miskin.
“Eh, mending bolos yuk ah! Gak guna cari gara-gara sama dia!” ujar Ares pada teman-temannya yang semakin gencar menggangguku.
“Bentar elahhh… Kan sayang kalau gak bikin si Jelek nangis!” jawab Lano lalu membanting tasku ke tanah dan menginjaknya di hadapanku.
“Jangan!” teriakku tapi tak dihiraukan Lano yang semakin gencar menginjakkan kaki biadabnya di tasku.
            Air mataku lolos teringat senyum lelah ibu sambil membawa tas itu untukku. Aku berancang-ancang mendorong Lano tapi kedua tanganku dengan cepat dicekal Ezra dan Iwan. Aku menyaksikan raut kepuasan di wajah Lano saat melihatku menangis. Aku hanya bisa meratapi tasku yang kotor dan sobek di tanah saat mereka pergi. Ibu maafkan aku.
            Aku melihat sekitar, ternyata sedari tadi aku menjadi bahan tontonan. Mereka tampak senang karena mendapat tayangan gratis tanpa berniat menolongku. Oh, aku lupa. Mereka sekolah untuk pamer harta bukan untuk mencari ilmu dan memperbaiki akhlak. Bahkan guru-guru pun menulikan telinga dan membutakan mata karena mereka takut dengan orang tua siswa-siswi di sini yang mayoritas kalangan atas.
            Aku tersenyum kecut lalu mengambil tasku yang teronggok mengenaskan di tanah. Kutepuk-tepuk pelan berharap debunya dapat sedikit hilang. Tiba-tiba satu bungkus tissue terjatuh di depanku. Aku menoleh ke belakang, siapa yang melemparnya?
            Aku mengambil tissue itu untuk membersihkan lumpur yang ada di tasku. Walaupun tidak sepenuhnya bersih tapi aku bersyukur jadi aku tak perlu berbohong jika ibu bertanya kenapa tasku begitu kotor.
            Sepulang sekolah aku memutuskan untuk langsung pulang. Aku takut Lano dan teman-temannya mengurungku seharian di gudang lagi. Aku bergidik takut mengingat peristiwa kemarin. Aku tersenyum bangga, hari ini aku mendapat nilai seratus ujian matematika. Ibu pasti bangga!
            Senyumku luntur begitu melihat pekarangan rumahku yang penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang. Bu Tini, tetanggaku, tampak menangis di sana. Suasana tiba-tiba senyap saat mereka melihatku yang membawa kertas hasil ujian ini.
            Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bu Tini langsung berlari dan memelukku erat, “Innalillahi wa innalillahi roji’un, yang sabar Cah Ayu!” ujarnya sambil mengusap punggungku.
            Aku tak bodoh untuk mengartikan ucapan Bu Tini, dengan perasaan tak menentu aku melepas cepat pelukan Bu Tini dan berlari ke dalam rumah.
“IBU!!! Mana Ibu saya?!!!” teriakku histeris.
            Semua orang terkejut dengan kehadiranku, Bu Helmi sang ustadzah tempatku mengaji langsung menyabarkanku. Tak kupungkiri mata beliau pun sama memerahnya dengan mataku.
            Aku memeluk Bu Helmi, “Ustadzah, Ibu saya di mana?” tanyaku menahan sesak dengan bibir bergetar seiring air mata yang terus keluar.
“Sabar Kinan, ikhlas, Ibu kamu sudah berpulang,” ujarnya bersamaan dengan badai yang menghantam jiwaku.
            Tubuhku meluruh ke bawah. Hartaku yang paling berharga telah direnggut, diambil oleh Yang Maha Kuasa. Mulai detik, menit, dan hari ini aku sendiri. Tak akan ada matahari yang menyinari, tak ada senyum lelah yang akan kusambut saat pulang, cahaya hidupku berganti gelap, semuanya senyap, sepi, hanya abu-abu. Ibu maafkan aku.
            Setelah seminggu mengurung diri akhirnya aku sekolah lagi. Ini semua berkat dukungan para tetangga termasuk Bu Tini dan Bu Helmi yang mengatakan ibuku tak kan tenang dan bahagia jika aku memilih menyerah untuk hidup. Aku mulai berpikir jika aku harus seperti ibu yang kuat, aku tak boleh lemah. Aku harus semangat! Aku harus membuat ibu bangga dan tersenyum melihatku menjadi berhasil!
“Aw!!!” pekikku saat sebuah tangan mendorongku hingga jatuh ke tanah.
Aku mendongak melihat siapa pelaku yang tega melakukan itu padaku, “Lano?!” pekikku marah.
            Aku bangkit dan balas mendorongnya berkali-kali lebih kuat. Berhasil, Lano terjatuh kesakitan dan terlihat terkejut melihatku yang tiba-tiba berani melawan. Semua perhatian tertuju pada kami. Siswa dan siswi berkerumun mengelilingi aku dan Lano. Seolah-olah kami adalah ayam yang sedang diadu.
“Heh heh ada apa ini?” ujar Ezra dan Iwan heboh sambil menembus kerumunan.
Lelaki itu terlihat terkejut melihatku yang marah dan Lano yang tergeletak di tanah, “Kuman?” pekik Iwan.
“Ohhh, udah berani melawan kamu?!” bentaknya.
            Lano bangkit sambil menatapku tajam membuatku takut. Aku tersentak saat Lano mengambil air mineral dari tangan Ezra dan menumpahkannya di atas kepalaku. Tak sampai di situ, lelaki itu juga mengangkat tong sampah dan menumpahkannya juga padaku. Semua orang berteriak heboh jijik melihatku.
“Sampah busuk, rendah, miskin, kuman, jelek, cengeng, bentar juga mewek dia! Hahah!!!” caci Lano disusul gelak tawa semua orang yang mengelilingi kami.
“Dah udah! Denger semuanya!” Lano memerintahkan semua untuk diam lalu menoleh ke belakang dan menatapku sinis.
“Ibu si Jelek ini, si Kuman ini, ternyata ngebabu di rumah Ares! Jadi pembantu! HAhahah!!!” kemudian gelak tawa terdengar lagi. Aku mengepalkan tangan menahan air mata dan benci juga luapan marah yang siap meledak bersamaan.
“Ibu sama anak sama aja-“
BUK!
Aku mendongak dan terkejut saat Lano terpental naas ke tanah sambil memegangi bibirnya. Suasana tiba-tiba mencekam dan hening. Kulihat lelaki yang berdiri di depanku. Ares?
Aku mendongak begitu tangannya terulur padaku, namun aku terpaku masih tak menyangka jika Ares membelaku. Tangan besar itu segera meraih dan membawaku bangkit karena aku hanya diam tak menyambut.

“DENGAR!!!” bentak Ares pada semua orang yang berada di sekitar kami.

“Hidup kalian enak dibanding Kinan! Dia kuat dan bangkit meski ibunya udah meninggal! Dia nggak pernah ngadu kalau kalian bully! Dia tetep baik kalau kalian ganggu! Kelebihannya, dia pinter tapi miskin, kalian kaya tapi kalian bodoh. Anjing pelacak aja lebih pinter dan berguna dibanding kalian yang cuma bisa ngebully, menghina, pemalas, beraninya keroyokan doang!” ujar Ares yang menyindir Lano.
“Hati ibunya bahkan seluas samudera sampai kekayaan keluargaku pun tak sanggup menandinginya. Minggu lalu ibuku divonis gagal ginjal,”
Hening.

            Aku meneguk ludah kasar menunggu penjelasan Ares.

“Sepulang sekolah aku dan Ibu Kinan langsung menjenguk Bundaku yang dilarikan ke UGD. Ibu Kinan tak tega melihatku seperti mayat hidup memandangi ibuku yang terbaring. Beliau dengan entengnya menyerahkan diri dan mendonorkan ginjalnya, menyerahkan nyawanya demi Bundaku.” Suara Ares melemah saat pandangan kami bertemu.
            Tubuhku lemas dan meluruh ke tanah. Ibuku rela berkorban dengan nyawanya yang berharga demi ibunda Ares? Ibu? Dadaku sesak. Air mata kembali mengucur deras. Ibu kenapa harus ibu? Ya  Allah…
“Kinan maafkan aku, saat itu aku tidak tahu apa-apa dan tidak bisa menolak. Saat itu aku berada di saat-saat yang sulit, aku tidak mau kehilangan Bunda tapi aku juga ingin menolak tawaran ibu kamu. Maaf kinan, maaf,” Ares berlutut bahkan bersujud di sepatu bututku, meminta permohonan maaf. Jaket mahal Ares bahkan mengenai sampah-sampah yang menempel di kakiku. Dapat kulihat punggung Ares bergetar menangis.
            Tubuhku menggeleng mengatakan tidak, tapi hati kecilku mengatakan ya. Ibuku sudah berkorban banyak, tak ingin kuhapus pahala kebaikan dan jasa ibu karena keegoisanku. Aku tak mau pengorbanan ibu menjadi tabu dan sia-sia.
            Dengan berat hati aku mengangguk, dengan suara bergetar menahan tangis aku berkata, “Aku maafkan. Jika aku di posisimu saat itu aku akan melakukan hal yang sama, Res.”
            Ucapanku sontak membuat Ares dan yang lainnya tersentak tak percaya, aku tersenyum kecut. Melepaskan tangan Ares dari sepatu bututku yang selalu dihina dan pergi meninggalkan orang-orang yang memandangiku dengan kasihan itu. Semua mata meratapi punggung kecil dengan tas lusuh nan robek ini. Aku tidak lemah! Aku tidak mau dikasihani!
            Ya Allah, jika ini jalannya, maka sabarkanlah hamba menerima setiap ujian yang Engkau berikan. Karena hamba yakin jika rencanamu lebih indah.
Beberapa tahun kemudian …
            Aku tersenyum di sebuah pusara, setelah memanjatkan doa aku pun menabur kelopak-kelopak bunga dan menyiramkan sebotol air doa.
“Ibu aku menjadi mahasiswi terbaik tahun ini! Aku dapat beasiswa ke luar negeri loh, Bu! Ibu senang kan?”
            Aku tersenyum dengan air mata mengalir, “Ibu berkat sepatu dan tas ini aku bisa meraih cita-citaku. Terima kasih Ibu, karena Ibu kinan jadi kuat dan bisa menjadi seperti sekarang.”
            Aku mendekatkan kepalaku ke batu nisan itu dan mengecupnya dengan air mata mengalir penuh rasa haru, “Kinan sayang Ibu!”