Si Kuman yang Berhati Besar
Karya : Putri Andini
Aku menghindar saat beberapa sorot
mata menatapku rendah. Cacian dan makian adalah makanan sehari-hariku di
sekolah ini. Hatiku sakit tentu saja saat mereka memperlakukanku demikian, tapi
ada satu alasan yang membuatku ingin bertahan.
“Heh
Kuman!” maki seseorang diiringi cacian-cacian lainnya yang kuyakini itu adalah
Lano bersama Ares, Iwan dan Ezra.
Aku berbalik dan menemukan tubuh
tinggi tegap yang sedang melipatkan tangannya di dada. Oh, jangan lupakan
tatapan sinis itu. Aku dibuat mati kutu hanya dengan tatapannya saja. Hatiku
mulai resah jika Lano akan mengurungku lagi di gudang sekolah.
“Masih
pake sepatu butut kamu? Sekali miskin ya miskin! Hahahahah!!!” oloknya yang
mengundang tawa beberapa teman-temannya. Aku menunduk melihat sepatuku yang
sudah koyak kainnya.
“Wihhh!!!
Tas si Misqueen baru loh, No!” ujar Ezra heboh sambil menunjuk tas bekas
majikan ibuku pada Lano.
Lano
melepas tas punggungku dengan paksa, “Cih, palingan dia nyuri!” tuduhnya.
“Kamu
nyuri beneran Kuman? Muka sama kelakuan memang sama ya,” kelakar Iwan.
Air mataku hamper menetes, aku tidak
mencuri. Aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu walau keluargaku miskin.
“Eh,
mending bolos yuk ah! Gak guna cari gara-gara sama dia!” ujar Ares pada
teman-temannya yang semakin gencar menggangguku.
“Bentar
elahhh… Kan sayang kalau gak bikin si Jelek nangis!” jawab Lano lalu membanting
tasku ke tanah dan menginjaknya di hadapanku.
“Jangan!”
teriakku tapi tak dihiraukan Lano yang semakin gencar menginjakkan kaki biadabnya
di tasku.
Air mataku lolos teringat senyum
lelah ibu sambil membawa tas itu untukku. Aku berancang-ancang mendorong Lano
tapi kedua tanganku dengan cepat dicekal Ezra dan Iwan. Aku menyaksikan raut
kepuasan di wajah Lano saat melihatku menangis. Aku hanya bisa meratapi tasku
yang kotor dan sobek di tanah saat mereka pergi. Ibu maafkan aku.
Aku melihat sekitar, ternyata sedari
tadi aku menjadi bahan tontonan. Mereka tampak senang karena mendapat tayangan
gratis tanpa berniat menolongku. Oh, aku lupa. Mereka sekolah untuk pamer harta
bukan untuk mencari ilmu dan memperbaiki akhlak. Bahkan guru-guru pun menulikan
telinga dan membutakan mata karena mereka takut dengan orang tua siswa-siswi di
sini yang mayoritas kalangan atas.
Aku tersenyum kecut lalu mengambil
tasku yang teronggok mengenaskan di tanah. Kutepuk-tepuk pelan berharap debunya
dapat sedikit hilang. Tiba-tiba satu bungkus tissue terjatuh di depanku. Aku
menoleh ke belakang, siapa yang melemparnya?
Aku mengambil tissue itu untuk
membersihkan lumpur yang ada di tasku. Walaupun tidak sepenuhnya bersih tapi
aku bersyukur jadi aku tak perlu berbohong jika ibu bertanya kenapa tasku
begitu kotor.
Sepulang sekolah aku memutuskan
untuk langsung pulang. Aku takut Lano dan teman-temannya mengurungku seharian
di gudang lagi. Aku bergidik takut mengingat peristiwa kemarin. Aku tersenyum
bangga, hari ini aku mendapat nilai seratus ujian matematika. Ibu pasti bangga!
Senyumku luntur begitu melihat
pekarangan rumahku yang penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang. Bu Tini,
tetanggaku, tampak menangis di sana. Suasana tiba-tiba senyap saat mereka
melihatku yang membawa kertas hasil ujian ini.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bu
Tini langsung berlari dan memelukku erat, “Innalillahi wa innalillahi roji’un,
yang sabar Cah Ayu!” ujarnya sambil mengusap punggungku.
Aku tak bodoh untuk mengartikan
ucapan Bu Tini, dengan perasaan tak menentu aku melepas cepat pelukan Bu Tini
dan berlari ke dalam rumah.
“IBU!!!
Mana Ibu saya?!!!” teriakku histeris.
Semua orang terkejut dengan
kehadiranku, Bu Helmi sang ustadzah tempatku mengaji langsung menyabarkanku.
Tak kupungkiri mata beliau pun sama memerahnya dengan mataku.
Aku memeluk Bu Helmi, “Ustadzah, Ibu
saya di mana?” tanyaku menahan sesak dengan bibir bergetar seiring air mata
yang terus keluar.
“Sabar
Kinan, ikhlas, Ibu kamu sudah berpulang,” ujarnya bersamaan dengan badai yang
menghantam jiwaku.
Tubuhku meluruh ke bawah. Hartaku
yang paling berharga telah direnggut, diambil oleh Yang Maha Kuasa. Mulai
detik, menit, dan hari ini aku sendiri. Tak akan ada matahari yang menyinari, tak
ada senyum lelah yang akan kusambut saat pulang, cahaya hidupku berganti gelap,
semuanya senyap, sepi, hanya abu-abu. Ibu maafkan aku.
Setelah seminggu mengurung diri
akhirnya aku sekolah lagi. Ini semua berkat dukungan para tetangga termasuk Bu
Tini dan Bu Helmi yang mengatakan ibuku tak kan tenang dan bahagia jika aku
memilih menyerah untuk hidup. Aku mulai berpikir jika aku harus seperti ibu
yang kuat, aku tak boleh lemah. Aku harus semangat! Aku harus membuat ibu
bangga dan tersenyum melihatku menjadi berhasil!
“Aw!!!”
pekikku saat sebuah tangan mendorongku hingga jatuh ke tanah.
Aku
mendongak melihat siapa pelaku yang tega melakukan itu padaku, “Lano?!” pekikku
marah.
Aku bangkit dan balas mendorongnya
berkali-kali lebih kuat. Berhasil, Lano terjatuh kesakitan dan terlihat
terkejut melihatku yang tiba-tiba berani melawan. Semua perhatian tertuju pada
kami. Siswa dan siswi berkerumun mengelilingi aku dan Lano. Seolah-olah kami
adalah ayam yang sedang diadu.
“Heh
heh ada apa ini?” ujar Ezra dan Iwan heboh sambil menembus kerumunan.
Lelaki
itu terlihat terkejut melihatku yang marah dan Lano yang tergeletak di tanah,
“Kuman?” pekik Iwan.
“Ohhh,
udah berani melawan kamu?!” bentaknya.
Lano bangkit sambil menatapku tajam
membuatku takut. Aku tersentak saat Lano mengambil air mineral dari tangan Ezra
dan menumpahkannya di atas kepalaku. Tak sampai di situ, lelaki itu juga
mengangkat tong sampah dan menumpahkannya juga padaku. Semua orang berteriak
heboh jijik melihatku.
“Sampah
busuk, rendah, miskin, kuman, jelek, cengeng, bentar juga mewek dia! Hahah!!!”
caci Lano disusul gelak tawa semua orang yang mengelilingi kami.
“Dah
udah! Denger semuanya!” Lano memerintahkan semua untuk diam lalu menoleh ke
belakang dan menatapku sinis.
“Ibu
si Jelek ini, si Kuman ini, ternyata ngebabu di rumah Ares! Jadi pembantu!
HAhahah!!!” kemudian gelak tawa terdengar lagi. Aku mengepalkan tangan menahan
air mata dan benci juga luapan marah yang siap meledak bersamaan.
“Ibu
sama anak sama aja-“
BUK!
Aku mendongak dan terkejut saat Lano
terpental naas ke tanah sambil memegangi bibirnya. Suasana tiba-tiba mencekam
dan hening. Kulihat lelaki yang berdiri di depanku. Ares?
Aku mendongak begitu tangannya terulur
padaku, namun aku terpaku masih tak menyangka jika Ares membelaku. Tangan besar
itu segera meraih dan membawaku bangkit karena aku hanya diam tak menyambut.
“DENGAR!!!”
bentak Ares pada semua orang yang berada di sekitar kami.
“Hidup
kalian enak dibanding Kinan! Dia kuat dan bangkit meski ibunya udah meninggal! Dia
nggak pernah ngadu kalau kalian bully! Dia tetep baik kalau kalian ganggu!
Kelebihannya, dia pinter tapi miskin, kalian kaya tapi kalian bodoh. Anjing
pelacak aja lebih pinter dan berguna dibanding kalian yang cuma bisa ngebully,
menghina, pemalas, beraninya keroyokan doang!” ujar Ares yang menyindir Lano.
“Hati
ibunya bahkan seluas samudera sampai kekayaan keluargaku pun tak sanggup
menandinginya. Minggu lalu ibuku divonis gagal ginjal,”
Hening.
Aku meneguk ludah kasar menunggu
penjelasan Ares.
“Sepulang
sekolah aku dan Ibu Kinan langsung menjenguk Bundaku yang dilarikan ke UGD. Ibu
Kinan tak tega melihatku seperti mayat hidup memandangi ibuku yang terbaring.
Beliau dengan entengnya menyerahkan diri dan mendonorkan ginjalnya, menyerahkan
nyawanya demi Bundaku.” Suara Ares melemah saat pandangan kami bertemu.
Tubuhku lemas dan meluruh ke tanah.
Ibuku rela berkorban dengan nyawanya yang berharga demi ibunda Ares? Ibu?
Dadaku sesak. Air mata kembali mengucur deras. Ibu kenapa harus ibu? Ya Allah…
“Kinan
maafkan aku, saat itu aku tidak tahu apa-apa dan tidak bisa menolak. Saat itu
aku berada di saat-saat yang sulit, aku tidak mau kehilangan Bunda tapi aku
juga ingin menolak tawaran ibu kamu. Maaf kinan, maaf,” Ares berlutut bahkan
bersujud di sepatu bututku, meminta permohonan maaf. Jaket mahal Ares bahkan
mengenai sampah-sampah yang menempel di kakiku. Dapat kulihat punggung Ares
bergetar menangis.
Tubuhku menggeleng mengatakan tidak, tapi hati kecilku mengatakan ya. Ibuku sudah berkorban banyak, tak ingin
kuhapus pahala kebaikan dan jasa ibu karena keegoisanku. Aku tak mau
pengorbanan ibu menjadi tabu dan sia-sia.
Dengan berat hati aku mengangguk,
dengan suara bergetar menahan tangis aku berkata, “Aku maafkan. Jika aku di
posisimu saat itu aku akan melakukan hal yang sama, Res.”
Ucapanku sontak membuat Ares dan
yang lainnya tersentak tak percaya, aku tersenyum kecut. Melepaskan tangan Ares
dari sepatu bututku yang selalu dihina dan pergi meninggalkan orang-orang yang
memandangiku dengan kasihan itu. Semua mata meratapi punggung kecil dengan tas
lusuh nan robek ini. Aku tidak lemah! Aku tidak mau dikasihani!
Ya Allah, jika ini jalannya, maka
sabarkanlah hamba menerima setiap ujian yang Engkau berikan. Karena hamba yakin
jika rencanamu lebih indah.
Beberapa
tahun kemudian …
Aku tersenyum di sebuah pusara,
setelah memanjatkan doa aku pun menabur kelopak-kelopak bunga dan menyiramkan sebotol
air doa.
“Ibu
aku menjadi mahasiswi terbaik tahun ini! Aku dapat beasiswa ke luar negeri loh,
Bu! Ibu senang kan?”
Aku tersenyum dengan air mata
mengalir, “Ibu berkat sepatu dan tas ini aku bisa meraih cita-citaku. Terima
kasih Ibu, karena Ibu kinan jadi kuat dan bisa menjadi seperti sekarang.”
Aku mendekatkan kepalaku ke batu
nisan itu dan mengecupnya dengan air mata mengalir penuh rasa haru, “Kinan sayang
Ibu!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar