Sabtu, 24 Oktober 2020

JUDULNYA APA YA? BACA AJA LAH :v

 

JUDULNYA APA YA?

Surat Andrea untuk Dani yang gak jelas

Karya     : Putri Andini

 


Hai, asmara!

Indah ya, aku mencintaimu kamu cinta dia

Masa puberku dihabiskan denganmu, dalam mimpi tapi:v

Dengan keadaan kamu memimpikan gadis lain

Sakit? Nggak sih cuma berdarah aja

 

Kamu sempurna, untuk aku

Kamu bahagia? Aku senang

Tapi tak berlaku jika kamu bahagia dengan gadis lain

Oh jelas, aku tak tenang

Aku cemburu, oh oke, aku ngangguk cepet sekarang

Gimana nggak? Cantik dikit follow, post jelek tapi cantik langsung komen

Insecure euy saya teh

Tapi bersyukur, masih bisa nikmatin rasanya dunia

Dan indahnya jatuh cinta sama kamu, walau gak dibales

 

Sakit hati? Iya, tapi itu hak kamu kok

Aku punya hak jatuh cinta dan kamu punya hak untuk nggak bales

Itu adil kok, aku nggak bisa maksa

Salahnya di aku, gak bisa nyatain langsung

Aku pengecut? Lah iya, gimana nggak? Orang yang kamu follow glowing, shimmering, splendid semua

Aku yang gini bisa apa?

 

Dan sampailah di detik ini

Di mana gak sengaja atau sengaja aku lihat kamu ngasih ngode

Jadi aku bingung

Mau move on ada lampu hijau, gak move on takut ditipu

Aku jadi belajar

Cowok juga ribet dan nyusahin

Disuruh buka hatimu eh malah ditutup kek pintu tol

Ada celah tapi gak bisa, dijagain kunti soalnya

Jadi kuputuskan

Daripada makan hati secara keterusan

Mending berjuangnnya dipending

Aku move on sayang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tapi kalo jodoh ya gak papa

Rabu, 22 Juli 2020

Yang Ada Badaknya - Puisi Pendek Dari Dian








YANG ADA BADAKNYA
-Puisi Pendek Dari Dian-

A short poetry by: Putri Andini
Kamu sendiri…
Tak tersentuh dan tak terlihat…
Dinginmu dapat dirasakan diri…
Aku mau tahu berapa banyak penat…
Penat yang kau emban dan dengan rapinya kau lipat…

Aku hanya bisa melihat dari jauh kesendirianmu…
Begitu ingin aku bertingkah konyol dan tertawa di sana…
Tapi kau begitu jauh, sangat jauh dan semu…
Dan aku hanya bisa terpana akan pesonamu…

Teruntuk sayngku yang belum jadi sayang…
Kau indah, menakjubkan, sampai aku harus menengadah untuk melihat…
Sayangnya kau tersembunyi, tapi itu bagus bagiku…
Karena aku egois jika dirimu hanya untukku…
Dan tak boleh banyak mata yang mendambamu…

(Dian Sandi Sandoro, April 2020) for special someone, Fernandine.
           
            Fey Namanya, gadis itu masih kulihat diam-diam. Aku rela tidak ikut main sepak bola dengan teman-temanku hanya untuk menemani gadis itu di kelas sendirian. Aku tak tahu dia merasakan kehadiranku apa tidak, jika aku bisa memandangnya seperti ini aku rela dia tak pernah tahu. Sad boy kan aku? Mueheheh…
            Ingin sekali aku menyapanya dan mengajaknya mengobrol atau berbasa-basi. Tapi lidahku begitu kelu hanya menatap matanya saja. Aku dibuat mati kutu olehnya. Fey, dia gadis yang sanggup membuat jantung ini hampir lepas dengan mudahnya. Mungkin terdengar hiperbola bagi kalian tapi tidak bagiku. Dia luar biasa.

Kamis, 02 Juli 2020

Yang Ada Badaknya

YANG ADA BADAKNYA

PART 1

karya : Putri Andini

 

            Hai, namaku Dian Sandi Sandoro. Akrab disapa ganteng, eh. Terserah kalian ingin menyebutku dengan nama panggilan apa saja, yang penting jangan dog, pig, dan lainnya soalnya aku manusia bukan binatang. Oke, di sini aku mau berbagi cerita keuwuanku dengan Fernandine Rinjani. Sosok cewek yang akrab disapa Fey. Dia cantik pakai banget, pintar? Jangan ditanya! Senyum? Beh, melebihi gula! Sampai diabetes Akang Dian! Tapi … dia jarang senyum. Ibaratnya nih ya, lihat dia senyum tuh seperti fatamorgana air di padang pasir, membuat kita ingin memiliki tapi tak bisa dimilki. Senyumnya sanggup membuat aku tertular senyam-senyum, tapi di hati. Yah, kan malu cowok salting depan gebetan. Cowok tuh harus tetap stay cool, contohnya ya Akang Dian ini. Malu-malu tapi mau!

            Permasalahannya di cerita ini bukan cuma dia yang jarang senyum, tapi permasalahan aku yang nggak bisa pdkt walau sekelas tiga tahun! Wadaw gile kan! Jangan ketawain aku yang cuma bisa mandang dia dari jauh dan cuma bisa jadi pengagum rahasia doang. Sebut aku kurang gentle, banci, atau kurang nyali karena nggak bisa dapetin cewek seperti Fey.

            Aku nggak percaya diri guys! Banyak temen-temen aku yang cuma senyumin dia tapi dilirik aja nggak. Dia itu dinginnya persis kulkas tiga puluh lima pintu. Dinginnya serasa di Antartika! Itulah alasannya kenapa aku nggak bisa jadi pacar bahkan dekat dengan Fey. Akang Dian ini selalu bego dadakan kalau sudah ditatap sama Fey. Bahkan kami hanya bicara dengan durasi terpanjang sepuluh detik, mungkin sih, orang cuma tegur sapa doang. Duh, Feyyy!!! Saking misteriusnya kamu, aku jadi mau nyanyi kan jadinya! Buka hatimu …. Bukalah sedikit untukku, eh. Tapi baru-baru ini ada perubahan guys! Fey mulai terbuka! Ibarat dapat emas batangan secara percuma, aku langsung gercep dong!

            “Fey mau ke kantin?” teman sekelasku bernama Indah terdengar bertanya pada Fey. Aku cuma lihat dari jauh dan nggak terlalu dengar mereka ngomong apa. Tapi pas lihat Fey ngomong, entah kenapa aku ikut seneng. Tapi Fey masih kelihatan jutek sih, jadi bukan cuma ke cowok aja tapi berlaku ke cewek-cewek juga. Fey itu cuek ke semua orang.

Aku lihat Indah pergi dan Fey? Dia Cuma lihatin Indah pergi sama gengnya doang, terus lanjut nulis atau gambar, aku nggak tahu. Banci nggak sih aku? Hoby gebetan aja nggak tahu? Apa aku harus berubah jadi stalkernya Fey?

            Sedih ya jadi cowok, cuma bisa mandang dari jauh. Pinjam tip-x aja nggak ada nyali, mending dicoret. Soalnya yang punya tip-x di kelas cuma Fey binti cuek doang. Yah biasa sih, fenomena ini sudah nggak asing di kalangan pelajar-pelajar Indonesia yang kebanyakan nggak mau keluar modal. Dan aku salah satunya, heheh! Yah, kan nabung biar bisa bangun rumah tangga sama Fey!!! Eakkk!!!

            “Di! Kamu lihatin apa sih?” Beni duduk di sampingku dengan minuman teh dalam kemasan plastik di tangannya. Aku langsung tutup hidung begitu bau asam dari ketiak Beni menyengat ke hidungku. Dan benar saja ketiaknya basah! Hiii!!!

            “Ben, jorok kamu! Abis main bola yah?” ujarku sambal tutup hidung.

            Beni nyengir tak bersalah dan malah semakin iseng mendekatkan ketiaknya padaku, “Bau gila!!!” teriakku sambil dengan sigap menjauh keluar karena Fey sudah menatap kami dengan tak nyaman yang membuatku tak enak hati. Ish, sialan! Ganggu aja sih Beni, padahal masih mau lihat Fey lama-lama. Sial! Sial! Sial! Gini nih punya sahabat cowok! Gak peka kalau sahabatnya lagi pdkt!

            

           

 Tunggu Lanjutan Update Nanti yah!!! See you Next Time! :D

Klik link ini untuk lihat tulisan Putri Andini lainnya!!! :D

 

 


Senin, 11 Mei 2020

Renungan Sejenak

Dunia ini penuh tipu daya...
Seberapa jauh pun kamu berbuat dosa, akan ada penyesalan, dan berakhir bersujud pada Sang Rahman.

Allah selalu ada di setiap hembus nafasmu, hidupmu, senang, suka, maupun duka. Dia sebaik-baiknya tempatmu berlindung. Dia Pemaaf, Pengampun, dan Penyayang.

Maka bersyukurlah. Lihatlah ke bawah, banyak orang yang lebih menderita darimu.
Ada yang kuat dan ada yang lemah.

Sesuatu yang tidak disukai Allah itu selalu berakhir buruk. Sebaliknya yang disukai Allah selalu berakhir indah.

"Semua orang menginginkan happy ending di akhir kisah hidupnya bukan?"

Kenapa tidak ikuti prosedurnya?
Kenapa memilih jalan rumit untuk bahagia?
Ada jalan pintas tapi kamu tidak menyadarinya.

- PencoretKertas304

Minggu, 19 April 2020

Sepayung Berdua



"Balikin!!!" suara teriakan cempreng dari Rika sanggup menulikan telingaku.

"Nggak! Lagian yah jadi perempuan kok bar-bar banget!" ujarku tak mau kalah sambil terus menarik penggaris kayu yang sempat mendarat di kepalaku.

"Aduh! Lano gila!!!" pekik Rika ketika aku spontan melepaskan penggarisnya, membuat gadis super duper bar-bar itu terjatuh mengenaskan.

"Hahahah!!! Rasain! Makanya jangan suka bar-bar!!! Perempuan bukan sih?!" ujarku kesal kemudian berlalu tanpa memedulikan rintihan sakit dari Rika.

"Lanooo!!! Awas ya kamu!!!" jeritnya melengking. Buset! itu mulut atau toa masjid?

Jeritan itu tak kuhiraukan, aku hanya tertawa membayangkan betapa gondoknya gadis itu memendam dendam kesumat padaku. Rika, Rika, dasar!

Erika Hernanda, sosok gadis bar-bar yang kubenci hampir seumur hidupku. Kok ada sih anak perempuan seperti dia? Aku tak habis pikir. Penggangu, cerewet, bar-bar, lebay, kasar, petakilan, dll. Rasanya terlalu jahat jika kubongkar satu per satu sikap minusnya itu.

Hari ini jadwal piketku dengan Rika, kok rasanya malas banget sih bawaannya? Mending bersihin toilet sekolah yang super bau daripada sepiket sama Rika binti cerewet ini.

"Apa kamu lihat-lihat?!" sinisnya dengan mata melotot galak.

Ish, serem banget sih. Aku balas nyolot dong, "Idih kepedean jadi orang! Maaf yah, cicak di dinding lebih menarik daripada kamu yang minta disleding!" sewotku tak mau kalah.

"Apa?!" pekiknya tak terima. Wajahnya memerah lantaran kesal, oh jangan lupakan

Sial! Dia pegang sapu!

"Aaaa!!!"

Akhirnya aku keluar demi menyelamatkan kepalaku dari getokan super Rika. Sumpah, otakku bisa-bisa amnesia kalau terus dipukul Rika. Aku harus selamat.

Jduar!!!

Suara petir mengagetkanku begitupun dengan Rika. Aku menengadah ke langit, ternyata hujan. Duh, mana hari sudah gelap ditambah mendung lagi. Sial banget hari ini!

Ya Allah, tolongin Lano dari kejamnya gubukan Rika dong. Lano janji bakal rajin solat lima waktu deh dan bakal rajin ngaji. Aamiin. Kecuali berhenti main ps.

"Mau lari ke mana kamu?!" aku berbalik dan meringis minta ampun ketika sepasang mata bulat melotot galak ke arahku.

"Kita damai aja yah, Rik? Ya? Ya? Ya? Menurut Pak Zaenudin, satpam sekolah kita, kalau musuhan itu nggak ba–"

"Baik-baik ya Lano,"

"Hah?" ujarku bingung saat Rika mengurungkan tangannya untuk memukulku.

Bisa kulihat jika Rika seperti tengah gugup untuk bicara, "Baik-baik aja sih heheh!!!" ujarnya dengan senyum dipaksakan.

Aku mulai heran. Kok suasananya jadi aneh dan canggung seperti ini sih? Kenapa hati lelaki terganteng se-Indonesia alias Lano Subagjo ini jadi sedih? Nggak banget kan?

"Lano kamu nggak bawa payung kan? Mau pinjam punya aku?" tanyanya sok baik hati.

Aku menyipitkan mata curiga, jangan-jangan ada udang di balik bakwan lagi? Kok tumben sok baik? Hmmm, patut dicurigai pemirsa.

"Nggak, makasih, takutnya rabies pinjam payung punya kamu!" ujarku pedas lalu berlari menembus derasnya hujan.

Sore itu, ada moment yang tidak bisa aku lupakan. Erika Hernanda, gadis yang paling kubenci seumur hidup itu ternyata  gadis yang terus bersemayam di pikiranku sepanjang hayat.

Aku berhenti di bawah pohon beringin untuk berteduh. Tapi angin tetap bertiup kencang, dan udara dingin terasa menusuk sampai ke dalam tulang. Seragamku bahkan basah kuyup karena kehujanan tadi.

Aku menggesekkan kedua telapak tanganku untuk menghangatkan tubuh. Duh, bisa-bisa demam nih kalau kelamaan kehujanan. Gak bisa main game deh! Halah, apes, apes!

"Lano! Lano! Lano!!!"

Suara teriakan khas menyebalkan terdengar ke gendang telingaku. Aku berbalik dan menemukan Rika yang sama basah kuyupnya denganku.

Eh, itu dia lagi pegang payung kan? Kok bego banget nggak dipakai? Coba disedekahkan ke orang yang membutuhkan, aku misalnya.

"Apasih teriak-teriak?!!!" bentakku kesal. Pasalnya aku malas untuk bertengkar saat ini. Hujan, dingin, gelap, dan kehadiran Rika semakin membuatku tak nyaman. Sial paket komplit.

"Mau pulang bareng? Seragam kamu basah, nanti kalau sakit gimana?"

Aku mimpi nggak sih? Kok Rika jadi baik banget? Tumben! Ini sih salah satu keajaiban dunia!

"Sok baik! Baru nyadar yah kalau kamu banyak dosa sama aku?!" ujarku.

Gadis itu membuka payungnya lalu berdiri di dekatku. Eh, apaansih ni cewek?! Aku pun bergeser ke samping, Rika mengikuti apa yang kulakukan.

"Mau kamu apa sih?!" ujarku sebal karena tingkah aneh si bar-bar yang tak seperti biasanya ini.

"Aku mau kamu pulang tapi bareng aku pakai payung ini," ujarnya.

Dipikir-pikir gak papa kan terima tawaran si Rika. Daripada kehujanan kan? Apalagi hampir maghrib terus cuaca mendung. Bisa-bisa sakit terus gak dapat uang jajan dan gak bisa main ps.

"Ya, udah! Kalau maksa! Rese banget sih jadi orang!" dengusku pura-pura kesal.

Kami pun pulang bersama di bawah payung yang sama. Saling mendekat jika salah satu dari kami terkena air hujan. Menyebrang jalan dengan berpegangan tangan tanpa sadar, rela mengorbankan jaketku untuk melindungi Rika dari cipratan air mobil. Dan itu semua adalah hal spontan yang kulakukan.

Dan tibalah kami di persimpangan karena rumah kami berlawanan arah, "Makasih ya Lano!" ini ucapan terima kasih yang pertama kali dia ucapkan. Tapi terima kasih untuk apa?

"Buat?" ujarku heran.

"Hari ini," ujarnya sambil tersenyum lebar. Eh, itu air mata kan? Bukan air hujan kan? Rika nangis? Masa sih?

"Apaan sih, lagian kan harusnya–"

"Makasih!" ujarnya lalu berlari kencang meninggalakanku dan payungnya.

"Eh, Rik! Payungnya!!!" teriakku.

Aku segera berlari untuk mengejar tapi Rika sudah tak terlihat akibat tebalnya asap hujan hari ini.

Aku mengedikkan bahu, "Besok deh kembaliin."

Tapi, besok adalah hari yang mungkin hari yang paling tak kuinginkan seumur hidup. Hari di mana cerita si bar-bar dan Lano ini berakhir selamanya. Karena Rika tak pernah datang lagi ke sekolah.

Satu hari, dua hari, tiga hari, bahkan berminggu-minggu kubawa payung ini ke sekolah layaknya orang bodoh. Bermaksud mengembalikan pada pemiliknya yang tak kunjung datang. Pemilik payung yang membuat hampa sebagian hatiku.

"Ohhh, Erika dan keluarganya sudah pindah rumah, Den."

"Kalau boleh tahu ke mana ya Bu?" tanyaku.

"Maaf, saya kurang tahu Den!"

Itulah jawaban Bu Sri, tetangga Rika, saat aku menanyakan perihal Rika yang tak kunjung datang ke sekolah dan rumahnya yang selalu sepi.

Jadi, Rika pergi?

Jadi alasan dia baik itu karena ini? Karena saat itu kami akan berpisah? Tak terasa mataku perih dan butiran basah mulai membasahi pipiku.

Lano Subagjo si ganteng se-Indonesia ini nangis. Si biang rusuh ini nangis. Si musuh Rika ini nangis. Karena perginya pemilik dari sebuah payung yang kupegang.

Jumat, 17 April 2020

Si Pencuri Hati dari Kopaja

Aku termenung di dalam kopaja. Suara gaduh di dalam kopaja tak sedikit pun dapat menggangguku. Bahkan rem diinjak sekaligus pun rasanya tidak akan bisa membuatku bergeming.


Kulempar pandanganku ke seluruh penjuru. Hanya ada kursi-kursi berjajar yang sumpek dan sempit. Aku tersenyum begitu melihat sepasang kursi di barisan terakhir. Sepasang kursi yang penuh dengan kenangan. Dan alasan mengapa aku termenung saat ini.


Kusenderkan kepalaku karena rasa penat. Memutar kenangan indah sembari menunggu sampai di tempat tujuan.


Hari itu di mana aku masih berseragam putih abu-abu. Di mana pulang sekolah adalah hal yang paling dinanti-nanti.


"Duh, mana sih kopajanya? Lama banget perasaan! Mana udah hampir malam lagi! Ish!!!" dumelku, sangat kesal, lantaran aku sudah hampir setengah jam berdiri layaknya orang bodoh di pinggir jalan.


Akhirnya sebuah kopaja dengan kepulan asap hitam datang juga menghampiriku yang melambaikan tangan minta berhenti.


Dan aku pun memilih untuk duduk manis di kursi barisan paling terakhir, karena hanya kursi itu saja yang tersisa karena kebanyakan sudah diisi karyawan pabrik yang pulang bekerja.


"Permisi," ujarku sopan pada seorang pemuda yang duduk tepat di antara dua kursi itu. Serakah banget sih ini orang!


Pemuda itu tak menjawab karena sepadang earphone melekat di kedua telinganya. Aku mulai geram, kuputuskan untuk mencabut paksa earphonenya. Kulihat dia menatapku sinis, tap aku pun tak kalah tajam membalas tatapannya itu.


"Bisa geser sedikit? Ini kendaraan umum bukan mobil pribadi," ujarku pedas.


Dengan sedikit tak rela pemuda itu bergeser hingga mentok di jendela kopaja. Aku pun duduk dengan nyaman di samping pemuda itu.


Kulirik dia lewat sudut mataku. Jaket bulukan, rambut sedikit gondrong, eh itu daki atau tahi lalat? Aku bergeser sedikit untuk menjaga jarak, boleh jadi dia gembel jahat kan?


"Tali sepatu," aku tersentak mendengar suara berat dari sampingku. Oh begitu toh suaranya.


"Hm?" aku menautkan kedua alisku bingung. Ini orang kok sekali ngomong gak jelas banget sih?


"Tali sepatu kamu," ujarnya lagi ketika melihatku melongo seperti orang bodoh.


Aku beroh ria di dalam hati. Aku pun menunduk untuk membenarkan tali sepatuku yang lepas.


Tapi, sebelum aku berancang-ancang menunduk aku melihat siluet tangan masuk ke dalam tas punggungku. Sialan! Tukang copet!


"HAH!!!" pekikku sambil menangkap lengannya. Kulihat pemuda itu terkejut. Hahahah... Aku dilawan gituh! Sistem radar anticopetku ini bisa mendeteksi para copeters dari radius lima meter.


"Ada apa Neng?" ujar sang kenek karena jeritanku tadi.


"Pak dia tadi mau copet saya!" aduku dengan marah.


"Apaan sih Dek!" ujar si pemuda tadi.


Dek?


Aku menyipitkan mata, "Dek, dek, dek, kepala kamu gede! Saya gak kenal kamu! Pak, bawa dia ke kantor polisi sekarang! Biar kapok ini orang nyuri-nyuri barang penumpang! Jangan-jangan dia copet beneran lagi Pak!" ujarku bersungut-sungut.


"Suttt... Kamu berisik! Pak maaf yah, adik saya ini memang suka begitu kalau sedang marah. Harap dimaklum," pemuda itu minta maaf dengan sopan pada sang kenek dan semua penumpang karena kegaduhan tadi. Apaan sih?!


"Ya gak papa. Wajar kok, bapak juga punya anak segede gini. Memang kalau ada maunya suka bikin ulah," ujar sang kenek memaklumi.

"Pak, saya bukan adeknya dia! Dia tukang nyopet masa dimirip-miripin sama saya sih!" protesku tak terima.

"Kami turun di sini aja Pak, takut dia berulah lagi."

Pemuda itu pun menyeretku dan membekap mulutku sebelum aku berteriak rusuh minta tolong.

"Woiii!!! Pak tolong saya! Dia penculik! Penculik! Penculik!!!" teriakku lelah saat kopaja itu menurunkan kami di pinggir jalan dan langsung melaju pergi meninggalkan kami.

"Heh! Heh! Mau ke mana kamu! Tanggung jawab antarkan saya pulang! Ini gara-gara kamu tahu!!!" dumelku sambil mengejar pemuda tadi.

Dengan geram aku menarik kuat jaketnya supaya dia berhenti. Berhasil, pemuda itu berbalik dan menatapku. Kok nyaliku ciut ternyata dia tinggi banget.

"Heh Cebol! Pulang sendiri!" sesudah mengucapkan itu dia lanjut berjalan.

Sialan!

"Tanggung jawab!!!" jeritku sambil menahan isak tangis. Bagaimana tidak? Hari sudah mulai malam, diturunkan dari kopaja, dan aku tidak tahu ini di daerah mana! Aku mau pulang!!!

Aku berlari mengejar pemuda itu agar tanggung jawab mengantarkanku pulang. Gila saja aku harus menunggu kopaja di tempat sepi apalagi di malam hari.

Aku merentangkan tangan mencegatnya, menatap dengan memohon dengan ingus keluar dari hidung, jangan lupakan air mata yang luber ke mana-mana.

"Aku mau pulang! Aku janji gak akan lapor polisi karena kejadian ini. Asal aku sampai rumah dan urusan kita selesai. Setelah itu anggap saja kita gak pernah ketemu," ujarku memohon, berharap ia iba sedikit saja dan mau mengantarku pulang dengan selamat.

"Nyusahin," ujarnya pendek tapi sanggup membuatku emosi. Inikan gara-gara dia! Siapa suruh nyeret aku keluar dari kopaja?!

"Alamat!" titahnya yang langsung kusebutkan saja alamat rumahku.

Aku terkesiap saat telapak tangannya memegang tanganku hangat. Percaya tidak percaya! Selama enam belas tahun aku bernafas di bumi, ini pertama kalinya ada lelaki selain papa yang menggenggam tanganku seperti ini.

Anehnya aku tak merasa terancam di dekat pemuda aneh ini. Rasanya begitu familiar walaupun kami baru saja bertemu beberapa jam tadi dengan kejadian tak terduga.

"Nama kamu siapa?" tanyaku memecah keheningan.

Kami tetap melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mungkin mama akan menyledingku karena pulang terlambat, apalagi ternyata diantarkan pemuda asing bin aneh. Tak bisa kubayangkan lagi wajah murka mama nanti. Aku bergidik ngeri begitu membayangkannya saja.

"Cerewet," ujarnya, singkat, padat, jelas bin nyelekit.

"Heh! Aku nanya baik-baik loh!" protesku.

"Nanti juga kamu tahu! Kita juga bakal ketemu lagi," ujarnya yang dibalas tawa receh olehku.

"Ngaco! Aku harap gak bakal ketemu kamu lagi dan gak mau ketemu sama orang seperti kamu lagi!" ujarku to the point.

Aku bisa melihat jika ia tersenyum tipis tadi. Nyaris tak terlihat. Apaan sih jantungku, sepertinya nanti aku harus cek ke dokter deh.

"Masuk," ujarnya dan melepaskan genggamannya. Entah mengapa aku merasa kehilangan. Rasa aman dan hangat itu berganti jadi rasa kehilangan. Eh, apaan sih!

Aku menganga, ini beneran rumahku. Kok cepet banget sampai di sini? Aku menyipitkan mata curiga ke arahnya. Jangan-jangan dia mahkluk halus lagi, kok bisa cepet langsung nyampe?

"Ayo masuk! Betah ya lama-lama sama saya?" ujarnya dengan percaya diri.

"Bweh, percaya diri tuh kurang-kurangin yah! Yang ada aku bisa beruban lama-lama sama kamu! Mana bawa sial lagi!" dengusku kesal lalu berlari menuju pintu dan masuk ke rumahku.

Aku naik ke atas tangga menuju kamarku. Perhatianku beralih ke jendela. Dia sudah pulang belum ya?

Aku mengintip dari balik jendela. Kullihat ke bawah, ke kanan, ke kiri, dia sudah pergi. Kok nyesel yah gak ajak dia mampir dulu.

Setetes air mata bening meluncur dari pelupuk mataku. Dia siapa sih? Kok aku jadi rindu? Padahal kami baru saja bertemu.

"Neng, Neng, Neng," ujar seseorang sambil menepuk-nepuk pipiku. Kepalaku terasa pusing, oh aku ketiduran ternyata.

"Daerah ini kan?" ucap sang kenek yang sudah hafal dengan tempatku biasa berhenti.

"E-eh, terima kasih Pak!" ujarku tak enak hati dan segera turun.
























Rabu, 25 Maret 2020

Bunga di Semak Belukar

Bunga Mekar di Semak Belukar
Karya : Putri Andini

Berkembanglah sang kembang...
Sendiri di luasnya semak belukar...
Bunga teratai sendiri mengambang...
Teguh, kuat dan berani mengakar...

Sungguh terguncang dilanda sepi...
Sendirian tak ada yang menemani...
Tak ada alasan untuk menguatkah hati...
Karena semua juga yang menyakiti...

Bukan sastrawan maupun cendekiawan...
Hanya seorang gelandangan dengan pengetahuan...
Seorang pengemis yang dermawan...
Seorang individu yang berperasaan...

Akan berdarah terkena duri...
Akan tumbang bila ditebang...
Akan menangis jika disakiti...
Akan kuat jika ada semangat...

Kutuliskan cairan hitam...
Goresannya mewakili batin dan lisan...
Setiap kata tercipta penuh perasaan...
Isinya menyayat hati karena kenyataan...

Memegang kayu keropos untuk menopang...
Rapuh dan terlalu lemah untuk berjuta beban...
Sorot matanya menyiratkan kegelisahaan...
Inilah bunga yang tumbuh di panasnya arang...




Si Kuman yang Berhati Besar


Si Kuman yang Berhati Besar
Karya : Putri Andini

            Aku menghindar saat beberapa sorot mata menatapku rendah. Cacian dan makian adalah makanan sehari-hariku di sekolah ini. Hatiku sakit tentu saja saat mereka memperlakukanku demikian, tapi ada satu alasan yang membuatku ingin bertahan.
“Heh Kuman!” maki seseorang diiringi cacian-cacian lainnya yang kuyakini itu adalah Lano bersama Ares, Iwan dan Ezra.
            Aku berbalik dan menemukan tubuh tinggi tegap yang sedang melipatkan tangannya di dada. Oh, jangan lupakan tatapan sinis itu. Aku dibuat mati kutu hanya dengan tatapannya saja. Hatiku mulai resah jika Lano akan mengurungku lagi di gudang sekolah.
“Masih pake sepatu butut kamu? Sekali miskin ya miskin! Hahahahah!!!” oloknya yang mengundang tawa beberapa teman-temannya. Aku menunduk melihat sepatuku yang sudah koyak kainnya.
“Wihhh!!! Tas si Misqueen baru loh, No!” ujar Ezra heboh sambil menunjuk tas bekas majikan ibuku pada Lano.
Lano melepas tas punggungku dengan paksa, “Cih, palingan dia nyuri!” tuduhnya.
“Kamu nyuri beneran Kuman? Muka sama kelakuan memang sama ya,” kelakar Iwan.
            Air mataku hamper menetes, aku tidak mencuri. Aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu walau keluargaku miskin.
“Eh, mending bolos yuk ah! Gak guna cari gara-gara sama dia!” ujar Ares pada teman-temannya yang semakin gencar menggangguku.
“Bentar elahhh… Kan sayang kalau gak bikin si Jelek nangis!” jawab Lano lalu membanting tasku ke tanah dan menginjaknya di hadapanku.
“Jangan!” teriakku tapi tak dihiraukan Lano yang semakin gencar menginjakkan kaki biadabnya di tasku.
            Air mataku lolos teringat senyum lelah ibu sambil membawa tas itu untukku. Aku berancang-ancang mendorong Lano tapi kedua tanganku dengan cepat dicekal Ezra dan Iwan. Aku menyaksikan raut kepuasan di wajah Lano saat melihatku menangis. Aku hanya bisa meratapi tasku yang kotor dan sobek di tanah saat mereka pergi. Ibu maafkan aku.
            Aku melihat sekitar, ternyata sedari tadi aku menjadi bahan tontonan. Mereka tampak senang karena mendapat tayangan gratis tanpa berniat menolongku. Oh, aku lupa. Mereka sekolah untuk pamer harta bukan untuk mencari ilmu dan memperbaiki akhlak. Bahkan guru-guru pun menulikan telinga dan membutakan mata karena mereka takut dengan orang tua siswa-siswi di sini yang mayoritas kalangan atas.
            Aku tersenyum kecut lalu mengambil tasku yang teronggok mengenaskan di tanah. Kutepuk-tepuk pelan berharap debunya dapat sedikit hilang. Tiba-tiba satu bungkus tissue terjatuh di depanku. Aku menoleh ke belakang, siapa yang melemparnya?
            Aku mengambil tissue itu untuk membersihkan lumpur yang ada di tasku. Walaupun tidak sepenuhnya bersih tapi aku bersyukur jadi aku tak perlu berbohong jika ibu bertanya kenapa tasku begitu kotor.
            Sepulang sekolah aku memutuskan untuk langsung pulang. Aku takut Lano dan teman-temannya mengurungku seharian di gudang lagi. Aku bergidik takut mengingat peristiwa kemarin. Aku tersenyum bangga, hari ini aku mendapat nilai seratus ujian matematika. Ibu pasti bangga!
            Senyumku luntur begitu melihat pekarangan rumahku yang penuh dengan orang-orang yang berlalu lalang. Bu Tini, tetanggaku, tampak menangis di sana. Suasana tiba-tiba senyap saat mereka melihatku yang membawa kertas hasil ujian ini.
            Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bu Tini langsung berlari dan memelukku erat, “Innalillahi wa innalillahi roji’un, yang sabar Cah Ayu!” ujarnya sambil mengusap punggungku.
            Aku tak bodoh untuk mengartikan ucapan Bu Tini, dengan perasaan tak menentu aku melepas cepat pelukan Bu Tini dan berlari ke dalam rumah.
“IBU!!! Mana Ibu saya?!!!” teriakku histeris.
            Semua orang terkejut dengan kehadiranku, Bu Helmi sang ustadzah tempatku mengaji langsung menyabarkanku. Tak kupungkiri mata beliau pun sama memerahnya dengan mataku.
            Aku memeluk Bu Helmi, “Ustadzah, Ibu saya di mana?” tanyaku menahan sesak dengan bibir bergetar seiring air mata yang terus keluar.
“Sabar Kinan, ikhlas, Ibu kamu sudah berpulang,” ujarnya bersamaan dengan badai yang menghantam jiwaku.
            Tubuhku meluruh ke bawah. Hartaku yang paling berharga telah direnggut, diambil oleh Yang Maha Kuasa. Mulai detik, menit, dan hari ini aku sendiri. Tak akan ada matahari yang menyinari, tak ada senyum lelah yang akan kusambut saat pulang, cahaya hidupku berganti gelap, semuanya senyap, sepi, hanya abu-abu. Ibu maafkan aku.
            Setelah seminggu mengurung diri akhirnya aku sekolah lagi. Ini semua berkat dukungan para tetangga termasuk Bu Tini dan Bu Helmi yang mengatakan ibuku tak kan tenang dan bahagia jika aku memilih menyerah untuk hidup. Aku mulai berpikir jika aku harus seperti ibu yang kuat, aku tak boleh lemah. Aku harus semangat! Aku harus membuat ibu bangga dan tersenyum melihatku menjadi berhasil!
“Aw!!!” pekikku saat sebuah tangan mendorongku hingga jatuh ke tanah.
Aku mendongak melihat siapa pelaku yang tega melakukan itu padaku, “Lano?!” pekikku marah.
            Aku bangkit dan balas mendorongnya berkali-kali lebih kuat. Berhasil, Lano terjatuh kesakitan dan terlihat terkejut melihatku yang tiba-tiba berani melawan. Semua perhatian tertuju pada kami. Siswa dan siswi berkerumun mengelilingi aku dan Lano. Seolah-olah kami adalah ayam yang sedang diadu.
“Heh heh ada apa ini?” ujar Ezra dan Iwan heboh sambil menembus kerumunan.
Lelaki itu terlihat terkejut melihatku yang marah dan Lano yang tergeletak di tanah, “Kuman?” pekik Iwan.
“Ohhh, udah berani melawan kamu?!” bentaknya.
            Lano bangkit sambil menatapku tajam membuatku takut. Aku tersentak saat Lano mengambil air mineral dari tangan Ezra dan menumpahkannya di atas kepalaku. Tak sampai di situ, lelaki itu juga mengangkat tong sampah dan menumpahkannya juga padaku. Semua orang berteriak heboh jijik melihatku.
“Sampah busuk, rendah, miskin, kuman, jelek, cengeng, bentar juga mewek dia! Hahah!!!” caci Lano disusul gelak tawa semua orang yang mengelilingi kami.
“Dah udah! Denger semuanya!” Lano memerintahkan semua untuk diam lalu menoleh ke belakang dan menatapku sinis.
“Ibu si Jelek ini, si Kuman ini, ternyata ngebabu di rumah Ares! Jadi pembantu! HAhahah!!!” kemudian gelak tawa terdengar lagi. Aku mengepalkan tangan menahan air mata dan benci juga luapan marah yang siap meledak bersamaan.
“Ibu sama anak sama aja-“
BUK!
Aku mendongak dan terkejut saat Lano terpental naas ke tanah sambil memegangi bibirnya. Suasana tiba-tiba mencekam dan hening. Kulihat lelaki yang berdiri di depanku. Ares?
Aku mendongak begitu tangannya terulur padaku, namun aku terpaku masih tak menyangka jika Ares membelaku. Tangan besar itu segera meraih dan membawaku bangkit karena aku hanya diam tak menyambut.

“DENGAR!!!” bentak Ares pada semua orang yang berada di sekitar kami.

“Hidup kalian enak dibanding Kinan! Dia kuat dan bangkit meski ibunya udah meninggal! Dia nggak pernah ngadu kalau kalian bully! Dia tetep baik kalau kalian ganggu! Kelebihannya, dia pinter tapi miskin, kalian kaya tapi kalian bodoh. Anjing pelacak aja lebih pinter dan berguna dibanding kalian yang cuma bisa ngebully, menghina, pemalas, beraninya keroyokan doang!” ujar Ares yang menyindir Lano.
“Hati ibunya bahkan seluas samudera sampai kekayaan keluargaku pun tak sanggup menandinginya. Minggu lalu ibuku divonis gagal ginjal,”
Hening.

            Aku meneguk ludah kasar menunggu penjelasan Ares.

“Sepulang sekolah aku dan Ibu Kinan langsung menjenguk Bundaku yang dilarikan ke UGD. Ibu Kinan tak tega melihatku seperti mayat hidup memandangi ibuku yang terbaring. Beliau dengan entengnya menyerahkan diri dan mendonorkan ginjalnya, menyerahkan nyawanya demi Bundaku.” Suara Ares melemah saat pandangan kami bertemu.
            Tubuhku lemas dan meluruh ke tanah. Ibuku rela berkorban dengan nyawanya yang berharga demi ibunda Ares? Ibu? Dadaku sesak. Air mata kembali mengucur deras. Ibu kenapa harus ibu? Ya  Allah…
“Kinan maafkan aku, saat itu aku tidak tahu apa-apa dan tidak bisa menolak. Saat itu aku berada di saat-saat yang sulit, aku tidak mau kehilangan Bunda tapi aku juga ingin menolak tawaran ibu kamu. Maaf kinan, maaf,” Ares berlutut bahkan bersujud di sepatu bututku, meminta permohonan maaf. Jaket mahal Ares bahkan mengenai sampah-sampah yang menempel di kakiku. Dapat kulihat punggung Ares bergetar menangis.
            Tubuhku menggeleng mengatakan tidak, tapi hati kecilku mengatakan ya. Ibuku sudah berkorban banyak, tak ingin kuhapus pahala kebaikan dan jasa ibu karena keegoisanku. Aku tak mau pengorbanan ibu menjadi tabu dan sia-sia.
            Dengan berat hati aku mengangguk, dengan suara bergetar menahan tangis aku berkata, “Aku maafkan. Jika aku di posisimu saat itu aku akan melakukan hal yang sama, Res.”
            Ucapanku sontak membuat Ares dan yang lainnya tersentak tak percaya, aku tersenyum kecut. Melepaskan tangan Ares dari sepatu bututku yang selalu dihina dan pergi meninggalkan orang-orang yang memandangiku dengan kasihan itu. Semua mata meratapi punggung kecil dengan tas lusuh nan robek ini. Aku tidak lemah! Aku tidak mau dikasihani!
            Ya Allah, jika ini jalannya, maka sabarkanlah hamba menerima setiap ujian yang Engkau berikan. Karena hamba yakin jika rencanamu lebih indah.
Beberapa tahun kemudian …
            Aku tersenyum di sebuah pusara, setelah memanjatkan doa aku pun menabur kelopak-kelopak bunga dan menyiramkan sebotol air doa.
“Ibu aku menjadi mahasiswi terbaik tahun ini! Aku dapat beasiswa ke luar negeri loh, Bu! Ibu senang kan?”
            Aku tersenyum dengan air mata mengalir, “Ibu berkat sepatu dan tas ini aku bisa meraih cita-citaku. Terima kasih Ibu, karena Ibu kinan jadi kuat dan bisa menjadi seperti sekarang.”
            Aku mendekatkan kepalaku ke batu nisan itu dan mengecupnya dengan air mata mengalir penuh rasa haru, “Kinan sayang Ibu!”

Senin, 17 Februari 2020

Jejak Noda

Jejak Noda

Karya : Putri Andini
Aku tahu aku kotor...
Busuk dan penuh luka...
Kubilas berkali-kali pun masih ada...
Bekas sayatan pun membekas dalam...

Ingin kujelaskan bukan hanya aku...
Aku sadar ada yang salah...
Diperbaiki pun rusak lagi...
Isak tangis pilu mewarnai hariku...

Kakiku kotor menginjak tinta hitam...
Tak bisa digerakkan sebab terlalu pekat...
Aku hampir tenggelam ditelan sang hitam...
Satu ujung jari lagi maka tenggelam...

Syukur, dia tepat waktu...
Menarik diriku dari kubangan itu...
Tersenyum getir, ternyata dia hanya ingin memegang ujung jariku...
Tak apa, akan kubuktikan cahaya ini...

Ditendang Harapan

Ditendang Harapan

Karya : Putri Andini
Siang, malam, tak terasa...
Mungkin sudah sejuta doa kurasa...
Namun, tetap aku tak bisa...
Nyatanya diri tak sampai ke asa...

Jauh dan berlansung lama...
Kuabadikan dan kupajang...
Satu detik pun tak kulewatkan...
Ternyata tak ada yang bisa kudapatkan...

Peluh membanjiri tubuh...
Sesal hanyalah arang...
Luka terasa perih...
Dan aku hidup di antara banyaknya kegelisahan...

Mimpiku menyesatkan...
Semua kurang lebih seperti kiasan...
Semua mencekik dan menyesakkan...
Aku hampir tewas karena keputusasaan...

Jumat, 06 Desember 2019

Pingky Tersayang


P I N G K Y  T E R S A Y A N G
Karya : Putri Andini

                Namanya Galaksi Samudera. Biasa dipanggil Galak. Dari namya sih, cowok banget. Iya gak sih? Eitsss... Jangan ngarep! Dia bukan cowok most wanted, cool, charming, ketua osis, atau idaman cewek kebanyakan. Dia sanggup ngebuat hidupku berputar 180˚,  dengan warna favoritnya. Warna merah muda.

                Badan L-Men hati Bebelac.

                “Ren, kok kamu bisa suka sama Galak sih?!” tanya Niken, sahabatku.

                Niken adalah sahabat baruku di sekolah ini. Gadis di sampingku ini selalu bergidik ngeri melihat aku betapa menyukai Galaksi , lelaki yang menyukai warna merah muda. Menurutku wajar kok kalau lelaki suka warna merah muda, perempuan juga banyak yang menyukai warna hitam. Jadi warna bukanlah masalah besar, mungkin Galaksi menyukai warna merah muda alias pink karena warna itu melambangkan cinta.

                “Aku suka semua yang ada pada diri Galak. Terserah dia mau suka warna pink atau apalah yang penting dia nggak transgender.” Jawabku sama seperti yang lalu-lalu saat semua orang bertanya sama persis dengan apa yang Niken tanyakan.

                “Bisa jawab selain itu gak?” tanya Niken putus asa mendengar jawabanku.

                Aku mengernyit tak paham, “Nggak!” jawabku final, membuat Niken membuang nafas lelah.

                “Aduh Rena! Bahkan Reza yang sempurna bin ganteng aja naksir kamu! Dan... Galak? Kamu serius?” cecar Niken membuatku memutar mata malas. Kenapa dia mencampuri urusan asmaraku?

                “Emangnya kalau aku suka Gal-“

                Ucapanku terpotong saat ada seseorang yang menyapaku dari kejauhan. “Rena!” panggil orang itu sambil melambaikan tangan. Kompak aku dan Niken melempar tatapan kami ke sumber suara. Tak bisa dipungkiri aku dan Niken membeku, terlihat di sana lelaki yang sedang kami bicarakan sedang tersenyum begitu manis ke arahku. Yah, dia Galak! Aku melotot ke arah Niken agar sahabatku itu tak bebicara apa-apa pada Galak.

                “Eh, Galak! Ada apa?” tanyaku mengulum senyum, menyembunyikan kegugupanku karena takut Galaksi mendengar obrolan kami.

                Pandanganku menjelajah ke seluruh pakaian yang dipakai Galaksi. Biasa, hari ini ia memakai jaket berwarna merah muda dengan gambar kelici imut di sisinya. Tak lupa, tas, sepatu, gelang, semuanya berwarna merah muda, kecuali seragam tentunya. Penampilan Galaksi yang mencolok membuat teman-teman di sekitarku kompak menahan tawa

                “Mmm... Pulang sekolah, kita pulang bareng lagi yah?” tanyanya sambil memainkan gambar kelinci yang menempel di jaket merah mudanya.

                Inilah kebiasaanku bersama Galak, berangkat dan pulang sekolah bersama. Kebiasaan inilah yang membuatku lebih dekat dalam mengenal sosok Galak. Hingga timbul perasaan yang mampu membuat semua orang di dunia ini diabetes. Cinta. Perasaan ini sangat manis namun sulit diungkapkan dan akan terasa pahit secara bersamaan.

                “Gak diminta juka kan udah biasa Pingky!” jawabku lembut, sedangakan Galaksi meringis malu.

                “Iya juga yah!” sahutnya masih memainkan benda berwarna merah muda itu.

                Satu hal yang harus kalian tahu. Aku dan Galaksi tidak berpacaran. Sakit? Tentu saja. Panggilan ‘Pingky’ itu adalah murni keinginanku untuk memanggil Galaksi dengan sebutan istimewa. Sebutan ini terbesit di pikiranku saat pertama kali mengenal Galak. Miris. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Tak apa, berteman pun sudah membuatku sangat senang.

                “Ya udah aku tung-“

                “Nggak!” ucap Niken tiba-tiba, memotong ucapanku. Niken menatap Galaksi garang, membuat Galaksi mengernyit tak suka.

                Alisku mengkerut bingung dan memandang Niken dengan tatapan yang menyiratkan. “Apa lagi ini?!”

                Niken mengedip-ngedipkan matanya padaku. Sekarang aku paham apa maksud Niken dan batinku tiba-tiba was-was, awas saja kalau Niken membuat Galaksi sakit hati. Aku akan sangat marah pada Niken. Galaksi itu perasa dan harus diperlakukan selembut mungkin. Hati yang bagai kapas itu ingin aku lindungi sepenuh hati.

                “Rena mau beli novel baru sama aku! Jadi, kamu pulang sendiri aja!” lanjut Niken membuatku bernafas lega karena ucapannya tak menyiratkan  cacian pedas untuk Galaksi.

                Sekarang aku was-was lagi menunggu respon Galaksi. Aku terkejut. Galaksi tampak murung membuat diriku merasa bersalah. Melihat wajah mendung di hadapanku membuatku memutar otak untuk membujuknya. “Maaf ya Pingky, besok-besok kan bisa?” bujukku dengan nada yang halus.

                Galaksi menundukkankepalanya lalu menatap ke arahku. Oh ya ampun! Jangan katakan jika Galaksi menangis?

“Ya udah, gak apa! Aku balik ke kelas dulu ya Ren, Nik!” pamit Galaksi, kemudian berlalu entah ke mana, mengabaikan olokkan, cacian dan makian para siswa di sepanjang koridor.

                Setelah Galaksi benar-benar pergi, aku langsung memandang tajam Niken. “Lo apa-apaan sih Nik?!” bentakku membuat Niken diam. Untuk pertama kalinya aku membentak Niken.

                Kemudian, aku pergi dari hadapan Niken dengan perasaan bercampur aduk. Aku tak tahu mengapa Niken begitu gigih membuat Galaksi dan aku menjauh. Aku hampir menyangka jika Niken mempunyai perasaan khusus pada Galaksi. Namun, semua spekulasi buruk itu aku enyahkan seketika saat Niken menyatakan jika ia tak mempunyai perasaan pada Galaksi. Saat itu juga aku dapat bernafas lega. Setidaknya kami tidak menyukai orang yang sama.

                Tapi hari ini aku begitu muak pada Niken. Galaksi menangis. Hatiku begitu sakit melihatnya, seolah aku dapat merasa apa yang Galaksi rasakan. Walaupun masalahnya sangat kecil, tapi jika hati Galaksi tersakiti aku tak bisa tinggal diam. Entahlah, lelaki penyuka warna merah muda itu begitu mendominasi hidupku dan... Hatiku.

                Aku bermaksud meminta maaf ke kelas Galaksi sepulang sekolah. Dan mengajaknya pulang bersama. Masa bdod dengan Niken. Sudah kuperingatkan sedari dulu jika hati Galaksi itu mudah terluka, tapi Niken seolah menulikan telinganya. Menyebalkan.

▪▪▪

                Kukemasi buku-buku milikku ke dalam tas. Sesekali aku melirik Niken yang masih menunduk diam di mejanya. Apa aku terlalu berlebihan? Niken terlihat berantakan sekali. Ah! Kenapa jadi seperti ini? Aku tak bermaksud menyakiti hati Niken tadi, tapi ah, sudahlah.

                Ku melirik jam di pergelangan tanganku. Mungkin saat ini sedang berada di perpustakaan, mengingat kebiasaan rutinnya meminjam buku sepulang sekolah ke perpustakaan. Aku berencana memberikan coklat sebagai permintaan maafku pada Galaksi. Dia pasti suka makanan manis ini.

                Baru aku akan melangkah pergi, aku merasakan pergelangan tanganku dicekal seseorang. “Ren! Jangan ke perpustakaan!” ucap Niken lirih.

                Aku mulai tersulut emosi, “Lepas Nik! Aku mau minta maaf sama Galaksi! Bahkan kamu yang bersalah pun gak mau minta maaf kan?!” ucapku geram.

                “Bukan! Kamu boleh temuin Galaksi tapi jangan sekarang!” ucapnya dengan wajah yang memucat, aku pun merasakan jika tangan Niken mendingin di pergelangan tanganku. Tapi aku tak peduli, dalam satu hentakkan tanganku terlepas dari cekalan Niken. Aku menatap tajam Niken sebelum pergi meniggalkannya.

                Apa maksud Niken melarangku? Aku benar-benar tak mengerti.

                Aku sampai di ruang perpustakaan yang sepi. Benar-benar sepi seperti tak ada seorang pun di sini. Apa Galaksi sudah pulang? Aku melihat jam di pergelangan tanganku, biasanya Galaksi tak akan pulang secepat ini.

                Aku memutuskan untuk menyusuri rak demi rak untuk mencari keberadaan Galaksi. Aku mulai cemas karena Galaksi tak kunjung menampakkan diri. Ah! Mungkin memang sudah pulang. Di saat aku akan melangkah, tiba-tiba terdengar sayup-sayup dua orang yang sepertinya tengah berbicara.

                Suaranya berasal dari sudut perpustakaan yang gelap dengan sedikit cahaya remang-remang. Jujur, aku merasa takut. Tapi rasa penasaranku lebih besar dari ketakutan itu.

                Perlahan, dengan langkah mengendap-ngendap aku menghampiri sumber suara itu. Dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat apa yang terjadi di hadapanku.

                “Galaksi!!!” jeritku histeris membuat dua orang itu terkejut dan melepas pelukannya.

                Wajah Galaksi mendadak pucat pasi. Dan siapa gadis itu? Aku merasa pernah melihatnya. Tapi aku tak peduli, karena entah mengapa denyut yang menyakitkan ini begitu menggerogoti hatiku. Berhasil! Galaksi berhasil membuat setetes air mata melawati pipiku. Mataku memerah perih. Kecewa? Sakit? Marah? Jangan tanyakan itu sekarang karena aku tak sanggup menjawabnya saat ini. Ini terlalu menyakitkan.

                “Aku kecewa, aku pikir kamu... .” ucapku sambil tertawa sumbang dengan air mata menggenang di pelupuk mataku. Sakit sekali saat aku mencoba bicara saat ini.

                “Gak penting!” setelah mengucapkan itu aku langsung berlari dari dua orang yang telah menyakitiku itu.

                Toh, Galaksi tak akan mengejarkanku. Dan aku yakin dia kekasih Galaksi. Untuk apa aku kecewa? Memangnya siapa aku? Ini konyol sekaligus menyakitkan. Aku meraung-raung sambil berlari di sepanjang koridor sekolah yang untungnya sudah sepi, hingga aku tak sadar jika ada seseorang di hadapanku.

                Bugh.

                “Awww!!!” rintih seorang yang tak sengaja kutabrak.

                “Rena? Astaga! Kamu nggak papa?” Niken mendekapku erat. Aku menangis sejadi-jadinya.

                Entah sudah berapa lama aku menangis. Akhirnya aku mengusap mataku yang sembab. Aku mendongak menatap Niken. “Maafin aku Nik! Maafin aku! Maaf!” ucapku kembali terisak.

                Sepertinya Niken sudah tahu apa yang terjadi padaku. “Jadi kamu udah liat dan denger? Aku harap perasaan kamu sama Galaksi bisa hilang detik ini juga!” ucap Niken tanpa basa-basi.

                Aku tergelak dan langsung menatap mata Niken lekat. “Kenapa harus saat ini Nik?”

Niken menghela nafas berat, “Kamu liat Galaksi meluk perempuan?” tanya Niken, aku mengangguk cepat. Hatiku merasa sakit lagi saat mengingat itu.

                “Namanya Dewi. Dia hamil! Aku denger obrolan mereka sebelum kamu. Tadinya aku mau minta maaf segera sama Galaksi, aku ikutin dia ke perpustakaan dan aku gak sengaja denger omongan mereka. Dan aku rasa ini keputusan yang tepat, Ren!”

                Aku mematung. Niken melanjutkan ucapannya, “Galaksi harus tanggung jawab sama Dewi dan kamu harus ikhlas demi kamu sendiri juga anak Galaksi dan Dewi.” Niken berterus terang.

                Ucapan-ucapan yang dilontarkan Niken bagai petir di siang hari. Aku tak percaya. Tapi mengingat interaksi Galaksi dan Dewi tadi meyakinkan semua yang diucapkan Niken. Perlahan-lahan ucapan Niken tak terdengar, kepalaku terasa berat memproses semuanya. Mataku mulai meremang dan gelap.

▪▪▪

                Sudah 10 tahun berlalu ...

                Hari ini ulang tahunku yang ke-26. Harusnya aku bahagia. Iya harusnya. Tapi tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Sial! Aku masih merindukan sosok yang mewarnai hidupku dengan merah muda.

                Galaksi Samudera. Aku rindu.

Di sinilah aku, membawa sekeranjang bunga dan berjuta-juta doa untuk yang terlelap di bawah sana. Aku mengusap batu nisan atas nama Galaksi Samudera. Aku terisak di samping pusara itu. Setelah memanjatkan doa aku menaburkan bunga di atas makam itu, untuk Pingkyku tersayang.  Tak ada pulang bersama sekarang, tak ada coklat yang manis, tak ada warna merah muda yang mewarnai hariku. Semuanya terasa hampa.

                Sebuah usapan di puncak kepalaku membuat aku tersentak kaget. Aku mendongak dan menatap mata itu. “Ayo, tidak baik meratapi orang yang sudah berpulang. Kamu harus ikhlas, dia pasti bahagia di sana!” ucapnya sambil tersenyum.

                Tanpa aba-aba aku memeluknya, “Terima kasih sudah berjuang untuk Galaksi dan berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan aku sama kamu, Rez.” Ucapku di sela tangisanku.

                Dia kakak kelasku sewaktu SMA, Reza. Dia adalah seorang dokter sekaligus orang yang selalu menguatkanku ketika Galaksi berada di masa-masa kritisnya. Dia melamarku beberapa bulan lalu, dan kini aku mencoba memantapkan hati. Galaksi memang sosok yang sangat aku sayang, tapi dia masa lalu. Aku harus membuka lembaran baru untuk menyembuhkan luka ini. Dan kini, aku memutuskan mengukir nama Reza di hatiku.

                

Rabu, 04 Desember 2019

Janji Satya

Janji Satya

Karya : Putri Andini


            Dia... Satya Wicaksono. Umurnya lebih tua 4 tahun dariku. Kami saling jatuh cinta. Aneh memang, karena umur kami yang terpaut lumayan jauh. Tapi cinta tak memandang usia kan?
            Aku biasa memnaggil Satya dengan panggilan abang. Karena aku merasa tak sopan saja jika memanggil namanya langsung. Sedangkan satya memanggilku dengan sebutan nama saja. Menyebalkan. Mengapa? Karena setiap ia memanggilku, aku berasa seperti hewan yang menggonggong. Aku selalu cemberut bila Satya memanggilku seperti itu, dan berakhir tawa Satya yang memekakkan telinga. Bang Sat emang.

            Kami sudah 3 tahun bersama. Saat itu aku masih kelas 1 SMA dan Satya baru masuk kuliah. Selama 3 tahun itu, dia selalu berjanji padaku.
“Kalau aku udah lulus kuliah, aku mau cari kerja. Kalau udah mapan aku mau membangun komitmen sama kamu.” ucapnya sembari mentapku yang sedang lahap makan batagor. Bayangkan betapa malunya aku, aku masih memakai seragam SMA, sehingga semua orang kompak menatap ke arah kami berdua. Ada yang berdehem menggoda, tersindir khususnya sepasang karyawan di samping kami, ada pula yang merasa iri dan memberi kode pada kekasihnya.

            Aku langsung menundukkan kepala menyadari banyaknya pasang mata mentap ke arah kami dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedangkan Satya? Jangan ditanya. Dia sedang bergaya layaknya selebriti yang sedang diwawancara. Hadeuhhh... Satya, Satya.
Ia mendekatkan wajahnya padaku, membuat diriku berspekulasi yang tidak-tidak. Sampai suara bisik nan lembut itu terdengar di telingaku.

“Aku janji!” ucapnya mantap, membuatku tak berkutik.

            Aku menoleh, mentap kedua manik hitam itu. Ada kesungguhan di sana. Kedua mata Satya hanya mengarah padaku. Jangan lupakan senyumnya yang mampu membuat pertahananku roboh seketika.

Satya berjanjilah jangan ingkar.

           Besoknya kami harus berpisah karena kami mempunyai kesibukkan masing-masing. Satya masih sibuk dengan urusan kuliahnya dan sangat sibuk memikirkan Satya. Memang terdengar berlebihan, tapi itu nyata adanya. Pada nyatanya inikan ciri orang jatuh cinta?

            Teman-temanku sudah beberapa kali menyadarkanku karena sedari tadi aku terus melamun. Aku masih teringat janji yang Satya ucapkan. Ada rasa takut bila Satya mengingkari janjinya dan meninggalkanku.

            Segera kutepis pemikiran buruk itu. Namun, akan terlalu berat untukku jika spekulasi buruk itu benar-benar terjadi. Aku tak sanggup jika Satya benar-benar meninggalkannku. Hatiku terlanjur dicuri olehnya. Oleh semua hal manis yang ia lakukan dan ucapkan padaku.
Satya bolehkah aku egois?

Menginginkanmu hanya untuk untukku.

            Setelah pulang sekolah, aku segera membersihkan diri dan mengecek ponselku, barangkali Satya mengirim satu kabar saja.

Ting!

Satu pesan masuk ke dalam notifikasi ponselku. Mataku membola ketika melihat nama pengirim yang tertera di layar. Satya!

Dari     : Satya
Untuk  : Saya
Ada yang kangen sama abang ganteng ini? J
Untuk : Satya
                                                                                                                                                                   Dari  : Saya
Aku kangen sama Bang Sat! :D


Aku mengulum senyum, menahan tawa menunggu balasan dari Satya.



Dari     : Satya
Untuk  : Saya
Calon istri durhaka! Awas kamu Jing!

           
            Aku mendengus kesal, selalu seperti ini. Apa aku harus ganti nama dari Jingga menjadi Cantika agar dipanngil cantik? Yah, Satya berhasil membuatku menjadi hewan menggonggong. Kemudian ada satu ide jahil melintas di otakku. Aku tertwa setan dalam hati dalam mulai melancarkan balasan untuk Satya.
                                                                                                                              
Untuk : Satya
                                                                                                                                                                Dari    : Saya
Ya udah tinggal cari abang pacar
yang lebih ganteng kalau gitu!


            Seringai nakal terbit di bibirku. Kalau Satya ada di sini pasti ia akan marah-marah atau merajuk padaku. Tawaku lepas seketika saat mengingat sifat possesivenya itu.


Dari    : Satya
Untuk  : Saya
JANGAN!!! AWAS KALAU BERANI!
Untuk  : Satya
                                                                                                                                                                 Dari   : Saya
Aku akan berani kalau kamu
 berani ingkar janji Satya. Jangan
janji kalau tak bisa menepati


             Bersamaan dengan pesan terakhirku terkirim, saat itu juga Satya offline. Mungkin sedang ada dosen atau entahlah. Lebih baik kupejamkan mata untuk mengobati lelah dan rindu ini.


•••


                Hari ini aku resmi lulus SMA, aku dan Satya putus kontak dalam waktu yang lama. Kulihat roomchat aku dan Satya beberapa tahun lalu, pesan terakhir yang kukirim belum Satya baca hingga tahun ini.

            Jangan tanya bangaimana perasaanku. Berantakan sekali. Rasanya Satya benar-benar menghilang. Dan parahnya rindu ini semakin menjadi. Bagaimana Satya akan hadir di acara kelulusanku jika kami sudah tak bertemu hampir 1 tahun 5 bulan 16 hari ini.

Satya jangan ingkar.

Satya jangan pergi.

Satya tepati janjimu.

            Di hari itu tangisku tak terbendung lagi dan rasa kehilangan semakin merajalela. Untuk pertama kalinya diriku patah hati oleh seorang lelaki. Dan lelaki itu yang kucintai dan baru saja pergi meninggalkan semua janji yang dijanjikkannya sendiri.

Satya ingkar janji.

4 tahun kemudian...

            Tepat saat acara wisudaku selesai, dengan tangan masih memegang toga dan sebuket bunga dari orang tuaku, aku menghampiri sahabat-sahabatku yang sedang mengabadikan momen ini. Senyum merekah itu tak pernah luntur dari mereka.


                Tiba-tiba seorang lelaki dengan pakaian rapih seperti orang kantoran menghadang langkahku. Senyumku luntur saat melihat wajah lelaki itu. Kuperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala yang berakhir di paras tampannya yang tampak lebih terurus, sepertinya dia lebih bahagia saat tak bersamaku. Memikirkannya pun sudah membuat hatiku ketar-ketir emosi, enak saja dia hidup bahagia sedangkan aku menderita karena susah melupakannya.

“Hai!” sapanya, memecahkan perhatianku.

            Cukup sudah! Aku menurunkan egoku dan berancang-ancang memeluknya. Tapi sebuah kertas tebal dengan sampul berwarna merah muda dihiasi pita lucu di tangan lelaki itu menghentikkan aksiku. Aku mematung saat menerimanya. Aku tak terlalu bodoh untuk mengartikan benda ini. Sebuah undangan pernikahan yang bertuliskan lelaki di hadapanku dan seorang wanita yang sudah merebut pasanganku.

“Apa kabar Jingga?” tanyanya, terdengar basa-basi.

            Jingga? Terasa asing sekali saat dia menyebut namaku seperti itu. Aku memaksakan senyum, sebuah senyum kecut. Tapi aku hanya diam, tak merespon pertanyaan yang tak lebih dari omong kosong itu. Menyadari caraku tersenyum dan aku yang terdiam, sepertinya lelaki itu mulai sadar apa yang terjadi.

“Maaf aku-“

“Stop!” potongku cepat. Apa aku terlihat bodoh saat hendak memeluknya tadi? Sedang dia tak menginginkanku lagi? Apa-apaan ini? Jika ini adalah acara reality show aku akan memilih melambaikan tangan ke kamera daripada ini memang terjadi.

            Dengan gerakan cepat aku merebut undangan sialan itu dari tangannya. Aku berlari menjauh kemudian berhenti dan berbalik menatapnya berang. “BANGSAT!!!” makiku dengan intonasi kencang penuh emosi.