Aku termenung di dalam kopaja. Suara gaduh di dalam kopaja tak sedikit pun dapat menggangguku. Bahkan rem diinjak sekaligus pun rasanya tidak akan bisa membuatku bergeming.
Kulempar pandanganku ke seluruh penjuru. Hanya ada kursi-kursi berjajar yang sumpek dan sempit. Aku tersenyum begitu melihat sepasang kursi di barisan terakhir. Sepasang kursi yang penuh dengan kenangan. Dan alasan mengapa aku termenung saat ini.
Kusenderkan kepalaku karena rasa penat. Memutar kenangan indah sembari menunggu sampai di tempat tujuan.
Hari itu di mana aku masih berseragam putih abu-abu. Di mana pulang sekolah adalah hal yang paling dinanti-nanti.
"Duh, mana sih kopajanya? Lama banget perasaan! Mana udah hampir malam lagi! Ish!!!" dumelku, sangat kesal, lantaran aku sudah hampir setengah jam berdiri layaknya orang bodoh di pinggir jalan.
Akhirnya sebuah kopaja dengan kepulan asap hitam datang juga menghampiriku yang melambaikan tangan minta berhenti.
Dan aku pun memilih untuk duduk manis di kursi barisan paling terakhir, karena hanya kursi itu saja yang tersisa karena kebanyakan sudah diisi karyawan pabrik yang pulang bekerja.
"Permisi," ujarku sopan pada seorang pemuda yang duduk tepat di antara dua kursi itu. Serakah banget sih ini orang!
Pemuda itu tak menjawab karena sepadang earphone melekat di kedua telinganya. Aku mulai geram, kuputuskan untuk mencabut paksa earphonenya. Kulihat dia menatapku sinis, tap aku pun tak kalah tajam membalas tatapannya itu.
"Bisa geser sedikit? Ini kendaraan umum bukan mobil pribadi," ujarku pedas.
Dengan sedikit tak rela pemuda itu bergeser hingga mentok di jendela kopaja. Aku pun duduk dengan nyaman di samping pemuda itu.
Kulirik dia lewat sudut mataku. Jaket bulukan, rambut sedikit gondrong, eh itu daki atau tahi lalat? Aku bergeser sedikit untuk menjaga jarak, boleh jadi dia gembel jahat kan?
"Tali sepatu," aku tersentak mendengar suara berat dari sampingku. Oh begitu toh suaranya.
"Hm?" aku menautkan kedua alisku bingung. Ini orang kok sekali ngomong gak jelas banget sih?
"Tali sepatu kamu," ujarnya lagi ketika melihatku melongo seperti orang bodoh.
Aku beroh ria di dalam hati. Aku pun menunduk untuk membenarkan tali sepatuku yang lepas.
Tapi, sebelum aku berancang-ancang menunduk aku melihat siluet tangan masuk ke dalam tas punggungku. Sialan! Tukang copet!
"HAH!!!" pekikku sambil menangkap lengannya. Kulihat pemuda itu terkejut. Hahahah... Aku dilawan gituh! Sistem radar anticopetku ini bisa mendeteksi para copeters dari radius lima meter.
"Ada apa Neng?" ujar sang kenek karena jeritanku tadi.
"Pak dia tadi mau copet saya!" aduku dengan marah.
"Apaan sih Dek!" ujar si pemuda tadi.
Dek?
Aku menyipitkan mata, "Dek, dek, dek, kepala kamu gede! Saya gak kenal kamu! Pak, bawa dia ke kantor polisi sekarang! Biar kapok ini orang nyuri-nyuri barang penumpang! Jangan-jangan dia copet beneran lagi Pak!" ujarku bersungut-sungut.
"Suttt... Kamu berisik! Pak maaf yah, adik saya ini memang suka begitu kalau sedang marah. Harap dimaklum," pemuda itu minta maaf dengan sopan pada sang kenek dan semua penumpang karena kegaduhan tadi. Apaan sih?!
"Ya gak papa. Wajar kok, bapak juga punya anak segede gini. Memang kalau ada maunya suka bikin ulah," ujar sang kenek memaklumi.
"Pak, saya bukan adeknya dia! Dia tukang nyopet masa dimirip-miripin sama saya sih!" protesku tak terima.
"Kami turun di sini aja Pak, takut dia berulah lagi."
Pemuda itu pun menyeretku dan membekap mulutku sebelum aku berteriak rusuh minta tolong.
"Woiii!!! Pak tolong saya! Dia penculik! Penculik! Penculik!!!" teriakku lelah saat kopaja itu menurunkan kami di pinggir jalan dan langsung melaju pergi meninggalkan kami.
"Heh! Heh! Mau ke mana kamu! Tanggung jawab antarkan saya pulang! Ini gara-gara kamu tahu!!!" dumelku sambil mengejar pemuda tadi.
Dengan geram aku menarik kuat jaketnya supaya dia berhenti. Berhasil, pemuda itu berbalik dan menatapku. Kok nyaliku ciut ternyata dia tinggi banget.
"Heh Cebol! Pulang sendiri!" sesudah mengucapkan itu dia lanjut berjalan.
Sialan!
"Tanggung jawab!!!" jeritku sambil menahan isak tangis. Bagaimana tidak? Hari sudah mulai malam, diturunkan dari kopaja, dan aku tidak tahu ini di daerah mana! Aku mau pulang!!!
Aku berlari mengejar pemuda itu agar tanggung jawab mengantarkanku pulang. Gila saja aku harus menunggu kopaja di tempat sepi apalagi di malam hari.
Aku merentangkan tangan mencegatnya, menatap dengan memohon dengan ingus keluar dari hidung, jangan lupakan air mata yang luber ke mana-mana.
"Aku mau pulang! Aku janji gak akan lapor polisi karena kejadian ini. Asal aku sampai rumah dan urusan kita selesai. Setelah itu anggap saja kita gak pernah ketemu," ujarku memohon, berharap ia iba sedikit saja dan mau mengantarku pulang dengan selamat.
"Nyusahin," ujarnya pendek tapi sanggup membuatku emosi. Inikan gara-gara dia! Siapa suruh nyeret aku keluar dari kopaja?!
"Alamat!" titahnya yang langsung kusebutkan saja alamat rumahku.
Aku terkesiap saat telapak tangannya memegang tanganku hangat. Percaya tidak percaya! Selama enam belas tahun aku bernafas di bumi, ini pertama kalinya ada lelaki selain papa yang menggenggam tanganku seperti ini.
Anehnya aku tak merasa terancam di dekat pemuda aneh ini. Rasanya begitu familiar walaupun kami baru saja bertemu beberapa jam tadi dengan kejadian tak terduga.
"Nama kamu siapa?" tanyaku memecah keheningan.
Kami tetap melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mungkin mama akan menyledingku karena pulang terlambat, apalagi ternyata diantarkan pemuda asing bin aneh. Tak bisa kubayangkan lagi wajah murka mama nanti. Aku bergidik ngeri begitu membayangkannya saja.
"Cerewet," ujarnya, singkat, padat, jelas bin nyelekit.
"Heh! Aku nanya baik-baik loh!" protesku.
"Nanti juga kamu tahu! Kita juga bakal ketemu lagi," ujarnya yang dibalas tawa receh olehku.
"Ngaco! Aku harap gak bakal ketemu kamu lagi dan gak mau ketemu sama orang seperti kamu lagi!" ujarku to the point.
Aku bisa melihat jika ia tersenyum tipis tadi. Nyaris tak terlihat. Apaan sih jantungku, sepertinya nanti aku harus cek ke dokter deh.
"Masuk," ujarnya dan melepaskan genggamannya. Entah mengapa aku merasa kehilangan. Rasa aman dan hangat itu berganti jadi rasa kehilangan. Eh, apaan sih!
Aku menganga, ini beneran rumahku. Kok cepet banget sampai di sini? Aku menyipitkan mata curiga ke arahnya. Jangan-jangan dia mahkluk halus lagi, kok bisa cepet langsung nyampe?
"Ayo masuk! Betah ya lama-lama sama saya?" ujarnya dengan percaya diri.
"Bweh, percaya diri tuh kurang-kurangin yah! Yang ada aku bisa beruban lama-lama sama kamu! Mana bawa sial lagi!" dengusku kesal lalu berlari menuju pintu dan masuk ke rumahku.
Aku naik ke atas tangga menuju kamarku. Perhatianku beralih ke jendela. Dia sudah pulang belum ya?
Aku mengintip dari balik jendela. Kullihat ke bawah, ke kanan, ke kiri, dia sudah pergi. Kok nyesel yah gak ajak dia mampir dulu.
Setetes air mata bening meluncur dari pelupuk mataku. Dia siapa sih? Kok aku jadi rindu? Padahal kami baru saja bertemu.
"Neng, Neng, Neng," ujar seseorang sambil menepuk-nepuk pipiku. Kepalaku terasa pusing, oh aku ketiduran ternyata.
"Daerah ini kan?" ucap sang kenek yang sudah hafal dengan tempatku biasa berhenti.
"E-eh, terima kasih Pak!" ujarku tak enak hati dan segera turun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar