Minggu, 19 April 2020

Sepayung Berdua



"Balikin!!!" suara teriakan cempreng dari Rika sanggup menulikan telingaku.

"Nggak! Lagian yah jadi perempuan kok bar-bar banget!" ujarku tak mau kalah sambil terus menarik penggaris kayu yang sempat mendarat di kepalaku.

"Aduh! Lano gila!!!" pekik Rika ketika aku spontan melepaskan penggarisnya, membuat gadis super duper bar-bar itu terjatuh mengenaskan.

"Hahahah!!! Rasain! Makanya jangan suka bar-bar!!! Perempuan bukan sih?!" ujarku kesal kemudian berlalu tanpa memedulikan rintihan sakit dari Rika.

"Lanooo!!! Awas ya kamu!!!" jeritnya melengking. Buset! itu mulut atau toa masjid?

Jeritan itu tak kuhiraukan, aku hanya tertawa membayangkan betapa gondoknya gadis itu memendam dendam kesumat padaku. Rika, Rika, dasar!

Erika Hernanda, sosok gadis bar-bar yang kubenci hampir seumur hidupku. Kok ada sih anak perempuan seperti dia? Aku tak habis pikir. Penggangu, cerewet, bar-bar, lebay, kasar, petakilan, dll. Rasanya terlalu jahat jika kubongkar satu per satu sikap minusnya itu.

Hari ini jadwal piketku dengan Rika, kok rasanya malas banget sih bawaannya? Mending bersihin toilet sekolah yang super bau daripada sepiket sama Rika binti cerewet ini.

"Apa kamu lihat-lihat?!" sinisnya dengan mata melotot galak.

Ish, serem banget sih. Aku balas nyolot dong, "Idih kepedean jadi orang! Maaf yah, cicak di dinding lebih menarik daripada kamu yang minta disleding!" sewotku tak mau kalah.

"Apa?!" pekiknya tak terima. Wajahnya memerah lantaran kesal, oh jangan lupakan

Sial! Dia pegang sapu!

"Aaaa!!!"

Akhirnya aku keluar demi menyelamatkan kepalaku dari getokan super Rika. Sumpah, otakku bisa-bisa amnesia kalau terus dipukul Rika. Aku harus selamat.

Jduar!!!

Suara petir mengagetkanku begitupun dengan Rika. Aku menengadah ke langit, ternyata hujan. Duh, mana hari sudah gelap ditambah mendung lagi. Sial banget hari ini!

Ya Allah, tolongin Lano dari kejamnya gubukan Rika dong. Lano janji bakal rajin solat lima waktu deh dan bakal rajin ngaji. Aamiin. Kecuali berhenti main ps.

"Mau lari ke mana kamu?!" aku berbalik dan meringis minta ampun ketika sepasang mata bulat melotot galak ke arahku.

"Kita damai aja yah, Rik? Ya? Ya? Ya? Menurut Pak Zaenudin, satpam sekolah kita, kalau musuhan itu nggak ba–"

"Baik-baik ya Lano,"

"Hah?" ujarku bingung saat Rika mengurungkan tangannya untuk memukulku.

Bisa kulihat jika Rika seperti tengah gugup untuk bicara, "Baik-baik aja sih heheh!!!" ujarnya dengan senyum dipaksakan.

Aku mulai heran. Kok suasananya jadi aneh dan canggung seperti ini sih? Kenapa hati lelaki terganteng se-Indonesia alias Lano Subagjo ini jadi sedih? Nggak banget kan?

"Lano kamu nggak bawa payung kan? Mau pinjam punya aku?" tanyanya sok baik hati.

Aku menyipitkan mata curiga, jangan-jangan ada udang di balik bakwan lagi? Kok tumben sok baik? Hmmm, patut dicurigai pemirsa.

"Nggak, makasih, takutnya rabies pinjam payung punya kamu!" ujarku pedas lalu berlari menembus derasnya hujan.

Sore itu, ada moment yang tidak bisa aku lupakan. Erika Hernanda, gadis yang paling kubenci seumur hidup itu ternyata  gadis yang terus bersemayam di pikiranku sepanjang hayat.

Aku berhenti di bawah pohon beringin untuk berteduh. Tapi angin tetap bertiup kencang, dan udara dingin terasa menusuk sampai ke dalam tulang. Seragamku bahkan basah kuyup karena kehujanan tadi.

Aku menggesekkan kedua telapak tanganku untuk menghangatkan tubuh. Duh, bisa-bisa demam nih kalau kelamaan kehujanan. Gak bisa main game deh! Halah, apes, apes!

"Lano! Lano! Lano!!!"

Suara teriakan khas menyebalkan terdengar ke gendang telingaku. Aku berbalik dan menemukan Rika yang sama basah kuyupnya denganku.

Eh, itu dia lagi pegang payung kan? Kok bego banget nggak dipakai? Coba disedekahkan ke orang yang membutuhkan, aku misalnya.

"Apasih teriak-teriak?!!!" bentakku kesal. Pasalnya aku malas untuk bertengkar saat ini. Hujan, dingin, gelap, dan kehadiran Rika semakin membuatku tak nyaman. Sial paket komplit.

"Mau pulang bareng? Seragam kamu basah, nanti kalau sakit gimana?"

Aku mimpi nggak sih? Kok Rika jadi baik banget? Tumben! Ini sih salah satu keajaiban dunia!

"Sok baik! Baru nyadar yah kalau kamu banyak dosa sama aku?!" ujarku.

Gadis itu membuka payungnya lalu berdiri di dekatku. Eh, apaansih ni cewek?! Aku pun bergeser ke samping, Rika mengikuti apa yang kulakukan.

"Mau kamu apa sih?!" ujarku sebal karena tingkah aneh si bar-bar yang tak seperti biasanya ini.

"Aku mau kamu pulang tapi bareng aku pakai payung ini," ujarnya.

Dipikir-pikir gak papa kan terima tawaran si Rika. Daripada kehujanan kan? Apalagi hampir maghrib terus cuaca mendung. Bisa-bisa sakit terus gak dapat uang jajan dan gak bisa main ps.

"Ya, udah! Kalau maksa! Rese banget sih jadi orang!" dengusku pura-pura kesal.

Kami pun pulang bersama di bawah payung yang sama. Saling mendekat jika salah satu dari kami terkena air hujan. Menyebrang jalan dengan berpegangan tangan tanpa sadar, rela mengorbankan jaketku untuk melindungi Rika dari cipratan air mobil. Dan itu semua adalah hal spontan yang kulakukan.

Dan tibalah kami di persimpangan karena rumah kami berlawanan arah, "Makasih ya Lano!" ini ucapan terima kasih yang pertama kali dia ucapkan. Tapi terima kasih untuk apa?

"Buat?" ujarku heran.

"Hari ini," ujarnya sambil tersenyum lebar. Eh, itu air mata kan? Bukan air hujan kan? Rika nangis? Masa sih?

"Apaan sih, lagian kan harusnya–"

"Makasih!" ujarnya lalu berlari kencang meninggalakanku dan payungnya.

"Eh, Rik! Payungnya!!!" teriakku.

Aku segera berlari untuk mengejar tapi Rika sudah tak terlihat akibat tebalnya asap hujan hari ini.

Aku mengedikkan bahu, "Besok deh kembaliin."

Tapi, besok adalah hari yang mungkin hari yang paling tak kuinginkan seumur hidup. Hari di mana cerita si bar-bar dan Lano ini berakhir selamanya. Karena Rika tak pernah datang lagi ke sekolah.

Satu hari, dua hari, tiga hari, bahkan berminggu-minggu kubawa payung ini ke sekolah layaknya orang bodoh. Bermaksud mengembalikan pada pemiliknya yang tak kunjung datang. Pemilik payung yang membuat hampa sebagian hatiku.

"Ohhh, Erika dan keluarganya sudah pindah rumah, Den."

"Kalau boleh tahu ke mana ya Bu?" tanyaku.

"Maaf, saya kurang tahu Den!"

Itulah jawaban Bu Sri, tetangga Rika, saat aku menanyakan perihal Rika yang tak kunjung datang ke sekolah dan rumahnya yang selalu sepi.

Jadi, Rika pergi?

Jadi alasan dia baik itu karena ini? Karena saat itu kami akan berpisah? Tak terasa mataku perih dan butiran basah mulai membasahi pipiku.

Lano Subagjo si ganteng se-Indonesia ini nangis. Si biang rusuh ini nangis. Si musuh Rika ini nangis. Karena perginya pemilik dari sebuah payung yang kupegang.

Jumat, 17 April 2020

Si Pencuri Hati dari Kopaja

Aku termenung di dalam kopaja. Suara gaduh di dalam kopaja tak sedikit pun dapat menggangguku. Bahkan rem diinjak sekaligus pun rasanya tidak akan bisa membuatku bergeming.


Kulempar pandanganku ke seluruh penjuru. Hanya ada kursi-kursi berjajar yang sumpek dan sempit. Aku tersenyum begitu melihat sepasang kursi di barisan terakhir. Sepasang kursi yang penuh dengan kenangan. Dan alasan mengapa aku termenung saat ini.


Kusenderkan kepalaku karena rasa penat. Memutar kenangan indah sembari menunggu sampai di tempat tujuan.


Hari itu di mana aku masih berseragam putih abu-abu. Di mana pulang sekolah adalah hal yang paling dinanti-nanti.


"Duh, mana sih kopajanya? Lama banget perasaan! Mana udah hampir malam lagi! Ish!!!" dumelku, sangat kesal, lantaran aku sudah hampir setengah jam berdiri layaknya orang bodoh di pinggir jalan.


Akhirnya sebuah kopaja dengan kepulan asap hitam datang juga menghampiriku yang melambaikan tangan minta berhenti.


Dan aku pun memilih untuk duduk manis di kursi barisan paling terakhir, karena hanya kursi itu saja yang tersisa karena kebanyakan sudah diisi karyawan pabrik yang pulang bekerja.


"Permisi," ujarku sopan pada seorang pemuda yang duduk tepat di antara dua kursi itu. Serakah banget sih ini orang!


Pemuda itu tak menjawab karena sepadang earphone melekat di kedua telinganya. Aku mulai geram, kuputuskan untuk mencabut paksa earphonenya. Kulihat dia menatapku sinis, tap aku pun tak kalah tajam membalas tatapannya itu.


"Bisa geser sedikit? Ini kendaraan umum bukan mobil pribadi," ujarku pedas.


Dengan sedikit tak rela pemuda itu bergeser hingga mentok di jendela kopaja. Aku pun duduk dengan nyaman di samping pemuda itu.


Kulirik dia lewat sudut mataku. Jaket bulukan, rambut sedikit gondrong, eh itu daki atau tahi lalat? Aku bergeser sedikit untuk menjaga jarak, boleh jadi dia gembel jahat kan?


"Tali sepatu," aku tersentak mendengar suara berat dari sampingku. Oh begitu toh suaranya.


"Hm?" aku menautkan kedua alisku bingung. Ini orang kok sekali ngomong gak jelas banget sih?


"Tali sepatu kamu," ujarnya lagi ketika melihatku melongo seperti orang bodoh.


Aku beroh ria di dalam hati. Aku pun menunduk untuk membenarkan tali sepatuku yang lepas.


Tapi, sebelum aku berancang-ancang menunduk aku melihat siluet tangan masuk ke dalam tas punggungku. Sialan! Tukang copet!


"HAH!!!" pekikku sambil menangkap lengannya. Kulihat pemuda itu terkejut. Hahahah... Aku dilawan gituh! Sistem radar anticopetku ini bisa mendeteksi para copeters dari radius lima meter.


"Ada apa Neng?" ujar sang kenek karena jeritanku tadi.


"Pak dia tadi mau copet saya!" aduku dengan marah.


"Apaan sih Dek!" ujar si pemuda tadi.


Dek?


Aku menyipitkan mata, "Dek, dek, dek, kepala kamu gede! Saya gak kenal kamu! Pak, bawa dia ke kantor polisi sekarang! Biar kapok ini orang nyuri-nyuri barang penumpang! Jangan-jangan dia copet beneran lagi Pak!" ujarku bersungut-sungut.


"Suttt... Kamu berisik! Pak maaf yah, adik saya ini memang suka begitu kalau sedang marah. Harap dimaklum," pemuda itu minta maaf dengan sopan pada sang kenek dan semua penumpang karena kegaduhan tadi. Apaan sih?!


"Ya gak papa. Wajar kok, bapak juga punya anak segede gini. Memang kalau ada maunya suka bikin ulah," ujar sang kenek memaklumi.

"Pak, saya bukan adeknya dia! Dia tukang nyopet masa dimirip-miripin sama saya sih!" protesku tak terima.

"Kami turun di sini aja Pak, takut dia berulah lagi."

Pemuda itu pun menyeretku dan membekap mulutku sebelum aku berteriak rusuh minta tolong.

"Woiii!!! Pak tolong saya! Dia penculik! Penculik! Penculik!!!" teriakku lelah saat kopaja itu menurunkan kami di pinggir jalan dan langsung melaju pergi meninggalkan kami.

"Heh! Heh! Mau ke mana kamu! Tanggung jawab antarkan saya pulang! Ini gara-gara kamu tahu!!!" dumelku sambil mengejar pemuda tadi.

Dengan geram aku menarik kuat jaketnya supaya dia berhenti. Berhasil, pemuda itu berbalik dan menatapku. Kok nyaliku ciut ternyata dia tinggi banget.

"Heh Cebol! Pulang sendiri!" sesudah mengucapkan itu dia lanjut berjalan.

Sialan!

"Tanggung jawab!!!" jeritku sambil menahan isak tangis. Bagaimana tidak? Hari sudah mulai malam, diturunkan dari kopaja, dan aku tidak tahu ini di daerah mana! Aku mau pulang!!!

Aku berlari mengejar pemuda itu agar tanggung jawab mengantarkanku pulang. Gila saja aku harus menunggu kopaja di tempat sepi apalagi di malam hari.

Aku merentangkan tangan mencegatnya, menatap dengan memohon dengan ingus keluar dari hidung, jangan lupakan air mata yang luber ke mana-mana.

"Aku mau pulang! Aku janji gak akan lapor polisi karena kejadian ini. Asal aku sampai rumah dan urusan kita selesai. Setelah itu anggap saja kita gak pernah ketemu," ujarku memohon, berharap ia iba sedikit saja dan mau mengantarku pulang dengan selamat.

"Nyusahin," ujarnya pendek tapi sanggup membuatku emosi. Inikan gara-gara dia! Siapa suruh nyeret aku keluar dari kopaja?!

"Alamat!" titahnya yang langsung kusebutkan saja alamat rumahku.

Aku terkesiap saat telapak tangannya memegang tanganku hangat. Percaya tidak percaya! Selama enam belas tahun aku bernafas di bumi, ini pertama kalinya ada lelaki selain papa yang menggenggam tanganku seperti ini.

Anehnya aku tak merasa terancam di dekat pemuda aneh ini. Rasanya begitu familiar walaupun kami baru saja bertemu beberapa jam tadi dengan kejadian tak terduga.

"Nama kamu siapa?" tanyaku memecah keheningan.

Kami tetap melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Mungkin mama akan menyledingku karena pulang terlambat, apalagi ternyata diantarkan pemuda asing bin aneh. Tak bisa kubayangkan lagi wajah murka mama nanti. Aku bergidik ngeri begitu membayangkannya saja.

"Cerewet," ujarnya, singkat, padat, jelas bin nyelekit.

"Heh! Aku nanya baik-baik loh!" protesku.

"Nanti juga kamu tahu! Kita juga bakal ketemu lagi," ujarnya yang dibalas tawa receh olehku.

"Ngaco! Aku harap gak bakal ketemu kamu lagi dan gak mau ketemu sama orang seperti kamu lagi!" ujarku to the point.

Aku bisa melihat jika ia tersenyum tipis tadi. Nyaris tak terlihat. Apaan sih jantungku, sepertinya nanti aku harus cek ke dokter deh.

"Masuk," ujarnya dan melepaskan genggamannya. Entah mengapa aku merasa kehilangan. Rasa aman dan hangat itu berganti jadi rasa kehilangan. Eh, apaan sih!

Aku menganga, ini beneran rumahku. Kok cepet banget sampai di sini? Aku menyipitkan mata curiga ke arahnya. Jangan-jangan dia mahkluk halus lagi, kok bisa cepet langsung nyampe?

"Ayo masuk! Betah ya lama-lama sama saya?" ujarnya dengan percaya diri.

"Bweh, percaya diri tuh kurang-kurangin yah! Yang ada aku bisa beruban lama-lama sama kamu! Mana bawa sial lagi!" dengusku kesal lalu berlari menuju pintu dan masuk ke rumahku.

Aku naik ke atas tangga menuju kamarku. Perhatianku beralih ke jendela. Dia sudah pulang belum ya?

Aku mengintip dari balik jendela. Kullihat ke bawah, ke kanan, ke kiri, dia sudah pergi. Kok nyesel yah gak ajak dia mampir dulu.

Setetes air mata bening meluncur dari pelupuk mataku. Dia siapa sih? Kok aku jadi rindu? Padahal kami baru saja bertemu.

"Neng, Neng, Neng," ujar seseorang sambil menepuk-nepuk pipiku. Kepalaku terasa pusing, oh aku ketiduran ternyata.

"Daerah ini kan?" ucap sang kenek yang sudah hafal dengan tempatku biasa berhenti.

"E-eh, terima kasih Pak!" ujarku tak enak hati dan segera turun.