Jumat, 06 Desember 2019

Pingky Tersayang


P I N G K Y  T E R S A Y A N G
Karya : Putri Andini

                Namanya Galaksi Samudera. Biasa dipanggil Galak. Dari namya sih, cowok banget. Iya gak sih? Eitsss... Jangan ngarep! Dia bukan cowok most wanted, cool, charming, ketua osis, atau idaman cewek kebanyakan. Dia sanggup ngebuat hidupku berputar 180˚,  dengan warna favoritnya. Warna merah muda.

                Badan L-Men hati Bebelac.

                “Ren, kok kamu bisa suka sama Galak sih?!” tanya Niken, sahabatku.

                Niken adalah sahabat baruku di sekolah ini. Gadis di sampingku ini selalu bergidik ngeri melihat aku betapa menyukai Galaksi , lelaki yang menyukai warna merah muda. Menurutku wajar kok kalau lelaki suka warna merah muda, perempuan juga banyak yang menyukai warna hitam. Jadi warna bukanlah masalah besar, mungkin Galaksi menyukai warna merah muda alias pink karena warna itu melambangkan cinta.

                “Aku suka semua yang ada pada diri Galak. Terserah dia mau suka warna pink atau apalah yang penting dia nggak transgender.” Jawabku sama seperti yang lalu-lalu saat semua orang bertanya sama persis dengan apa yang Niken tanyakan.

                “Bisa jawab selain itu gak?” tanya Niken putus asa mendengar jawabanku.

                Aku mengernyit tak paham, “Nggak!” jawabku final, membuat Niken membuang nafas lelah.

                “Aduh Rena! Bahkan Reza yang sempurna bin ganteng aja naksir kamu! Dan... Galak? Kamu serius?” cecar Niken membuatku memutar mata malas. Kenapa dia mencampuri urusan asmaraku?

                “Emangnya kalau aku suka Gal-“

                Ucapanku terpotong saat ada seseorang yang menyapaku dari kejauhan. “Rena!” panggil orang itu sambil melambaikan tangan. Kompak aku dan Niken melempar tatapan kami ke sumber suara. Tak bisa dipungkiri aku dan Niken membeku, terlihat di sana lelaki yang sedang kami bicarakan sedang tersenyum begitu manis ke arahku. Yah, dia Galak! Aku melotot ke arah Niken agar sahabatku itu tak bebicara apa-apa pada Galak.

                “Eh, Galak! Ada apa?” tanyaku mengulum senyum, menyembunyikan kegugupanku karena takut Galaksi mendengar obrolan kami.

                Pandanganku menjelajah ke seluruh pakaian yang dipakai Galaksi. Biasa, hari ini ia memakai jaket berwarna merah muda dengan gambar kelici imut di sisinya. Tak lupa, tas, sepatu, gelang, semuanya berwarna merah muda, kecuali seragam tentunya. Penampilan Galaksi yang mencolok membuat teman-teman di sekitarku kompak menahan tawa

                “Mmm... Pulang sekolah, kita pulang bareng lagi yah?” tanyanya sambil memainkan gambar kelinci yang menempel di jaket merah mudanya.

                Inilah kebiasaanku bersama Galak, berangkat dan pulang sekolah bersama. Kebiasaan inilah yang membuatku lebih dekat dalam mengenal sosok Galak. Hingga timbul perasaan yang mampu membuat semua orang di dunia ini diabetes. Cinta. Perasaan ini sangat manis namun sulit diungkapkan dan akan terasa pahit secara bersamaan.

                “Gak diminta juka kan udah biasa Pingky!” jawabku lembut, sedangakan Galaksi meringis malu.

                “Iya juga yah!” sahutnya masih memainkan benda berwarna merah muda itu.

                Satu hal yang harus kalian tahu. Aku dan Galaksi tidak berpacaran. Sakit? Tentu saja. Panggilan ‘Pingky’ itu adalah murni keinginanku untuk memanggil Galaksi dengan sebutan istimewa. Sebutan ini terbesit di pikiranku saat pertama kali mengenal Galak. Miris. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Tak apa, berteman pun sudah membuatku sangat senang.

                “Ya udah aku tung-“

                “Nggak!” ucap Niken tiba-tiba, memotong ucapanku. Niken menatap Galaksi garang, membuat Galaksi mengernyit tak suka.

                Alisku mengkerut bingung dan memandang Niken dengan tatapan yang menyiratkan. “Apa lagi ini?!”

                Niken mengedip-ngedipkan matanya padaku. Sekarang aku paham apa maksud Niken dan batinku tiba-tiba was-was, awas saja kalau Niken membuat Galaksi sakit hati. Aku akan sangat marah pada Niken. Galaksi itu perasa dan harus diperlakukan selembut mungkin. Hati yang bagai kapas itu ingin aku lindungi sepenuh hati.

                “Rena mau beli novel baru sama aku! Jadi, kamu pulang sendiri aja!” lanjut Niken membuatku bernafas lega karena ucapannya tak menyiratkan  cacian pedas untuk Galaksi.

                Sekarang aku was-was lagi menunggu respon Galaksi. Aku terkejut. Galaksi tampak murung membuat diriku merasa bersalah. Melihat wajah mendung di hadapanku membuatku memutar otak untuk membujuknya. “Maaf ya Pingky, besok-besok kan bisa?” bujukku dengan nada yang halus.

                Galaksi menundukkankepalanya lalu menatap ke arahku. Oh ya ampun! Jangan katakan jika Galaksi menangis?

“Ya udah, gak apa! Aku balik ke kelas dulu ya Ren, Nik!” pamit Galaksi, kemudian berlalu entah ke mana, mengabaikan olokkan, cacian dan makian para siswa di sepanjang koridor.

                Setelah Galaksi benar-benar pergi, aku langsung memandang tajam Niken. “Lo apa-apaan sih Nik?!” bentakku membuat Niken diam. Untuk pertama kalinya aku membentak Niken.

                Kemudian, aku pergi dari hadapan Niken dengan perasaan bercampur aduk. Aku tak tahu mengapa Niken begitu gigih membuat Galaksi dan aku menjauh. Aku hampir menyangka jika Niken mempunyai perasaan khusus pada Galaksi. Namun, semua spekulasi buruk itu aku enyahkan seketika saat Niken menyatakan jika ia tak mempunyai perasaan pada Galaksi. Saat itu juga aku dapat bernafas lega. Setidaknya kami tidak menyukai orang yang sama.

                Tapi hari ini aku begitu muak pada Niken. Galaksi menangis. Hatiku begitu sakit melihatnya, seolah aku dapat merasa apa yang Galaksi rasakan. Walaupun masalahnya sangat kecil, tapi jika hati Galaksi tersakiti aku tak bisa tinggal diam. Entahlah, lelaki penyuka warna merah muda itu begitu mendominasi hidupku dan... Hatiku.

                Aku bermaksud meminta maaf ke kelas Galaksi sepulang sekolah. Dan mengajaknya pulang bersama. Masa bdod dengan Niken. Sudah kuperingatkan sedari dulu jika hati Galaksi itu mudah terluka, tapi Niken seolah menulikan telinganya. Menyebalkan.

▪▪▪

                Kukemasi buku-buku milikku ke dalam tas. Sesekali aku melirik Niken yang masih menunduk diam di mejanya. Apa aku terlalu berlebihan? Niken terlihat berantakan sekali. Ah! Kenapa jadi seperti ini? Aku tak bermaksud menyakiti hati Niken tadi, tapi ah, sudahlah.

                Ku melirik jam di pergelangan tanganku. Mungkin saat ini sedang berada di perpustakaan, mengingat kebiasaan rutinnya meminjam buku sepulang sekolah ke perpustakaan. Aku berencana memberikan coklat sebagai permintaan maafku pada Galaksi. Dia pasti suka makanan manis ini.

                Baru aku akan melangkah pergi, aku merasakan pergelangan tanganku dicekal seseorang. “Ren! Jangan ke perpustakaan!” ucap Niken lirih.

                Aku mulai tersulut emosi, “Lepas Nik! Aku mau minta maaf sama Galaksi! Bahkan kamu yang bersalah pun gak mau minta maaf kan?!” ucapku geram.

                “Bukan! Kamu boleh temuin Galaksi tapi jangan sekarang!” ucapnya dengan wajah yang memucat, aku pun merasakan jika tangan Niken mendingin di pergelangan tanganku. Tapi aku tak peduli, dalam satu hentakkan tanganku terlepas dari cekalan Niken. Aku menatap tajam Niken sebelum pergi meniggalkannya.

                Apa maksud Niken melarangku? Aku benar-benar tak mengerti.

                Aku sampai di ruang perpustakaan yang sepi. Benar-benar sepi seperti tak ada seorang pun di sini. Apa Galaksi sudah pulang? Aku melihat jam di pergelangan tanganku, biasanya Galaksi tak akan pulang secepat ini.

                Aku memutuskan untuk menyusuri rak demi rak untuk mencari keberadaan Galaksi. Aku mulai cemas karena Galaksi tak kunjung menampakkan diri. Ah! Mungkin memang sudah pulang. Di saat aku akan melangkah, tiba-tiba terdengar sayup-sayup dua orang yang sepertinya tengah berbicara.

                Suaranya berasal dari sudut perpustakaan yang gelap dengan sedikit cahaya remang-remang. Jujur, aku merasa takut. Tapi rasa penasaranku lebih besar dari ketakutan itu.

                Perlahan, dengan langkah mengendap-ngendap aku menghampiri sumber suara itu. Dan alangkah terkejutnya aku ketika melihat apa yang terjadi di hadapanku.

                “Galaksi!!!” jeritku histeris membuat dua orang itu terkejut dan melepas pelukannya.

                Wajah Galaksi mendadak pucat pasi. Dan siapa gadis itu? Aku merasa pernah melihatnya. Tapi aku tak peduli, karena entah mengapa denyut yang menyakitkan ini begitu menggerogoti hatiku. Berhasil! Galaksi berhasil membuat setetes air mata melawati pipiku. Mataku memerah perih. Kecewa? Sakit? Marah? Jangan tanyakan itu sekarang karena aku tak sanggup menjawabnya saat ini. Ini terlalu menyakitkan.

                “Aku kecewa, aku pikir kamu... .” ucapku sambil tertawa sumbang dengan air mata menggenang di pelupuk mataku. Sakit sekali saat aku mencoba bicara saat ini.

                “Gak penting!” setelah mengucapkan itu aku langsung berlari dari dua orang yang telah menyakitiku itu.

                Toh, Galaksi tak akan mengejarkanku. Dan aku yakin dia kekasih Galaksi. Untuk apa aku kecewa? Memangnya siapa aku? Ini konyol sekaligus menyakitkan. Aku meraung-raung sambil berlari di sepanjang koridor sekolah yang untungnya sudah sepi, hingga aku tak sadar jika ada seseorang di hadapanku.

                Bugh.

                “Awww!!!” rintih seorang yang tak sengaja kutabrak.

                “Rena? Astaga! Kamu nggak papa?” Niken mendekapku erat. Aku menangis sejadi-jadinya.

                Entah sudah berapa lama aku menangis. Akhirnya aku mengusap mataku yang sembab. Aku mendongak menatap Niken. “Maafin aku Nik! Maafin aku! Maaf!” ucapku kembali terisak.

                Sepertinya Niken sudah tahu apa yang terjadi padaku. “Jadi kamu udah liat dan denger? Aku harap perasaan kamu sama Galaksi bisa hilang detik ini juga!” ucap Niken tanpa basa-basi.

                Aku tergelak dan langsung menatap mata Niken lekat. “Kenapa harus saat ini Nik?”

Niken menghela nafas berat, “Kamu liat Galaksi meluk perempuan?” tanya Niken, aku mengangguk cepat. Hatiku merasa sakit lagi saat mengingat itu.

                “Namanya Dewi. Dia hamil! Aku denger obrolan mereka sebelum kamu. Tadinya aku mau minta maaf segera sama Galaksi, aku ikutin dia ke perpustakaan dan aku gak sengaja denger omongan mereka. Dan aku rasa ini keputusan yang tepat, Ren!”

                Aku mematung. Niken melanjutkan ucapannya, “Galaksi harus tanggung jawab sama Dewi dan kamu harus ikhlas demi kamu sendiri juga anak Galaksi dan Dewi.” Niken berterus terang.

                Ucapan-ucapan yang dilontarkan Niken bagai petir di siang hari. Aku tak percaya. Tapi mengingat interaksi Galaksi dan Dewi tadi meyakinkan semua yang diucapkan Niken. Perlahan-lahan ucapan Niken tak terdengar, kepalaku terasa berat memproses semuanya. Mataku mulai meremang dan gelap.

▪▪▪

                Sudah 10 tahun berlalu ...

                Hari ini ulang tahunku yang ke-26. Harusnya aku bahagia. Iya harusnya. Tapi tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Sial! Aku masih merindukan sosok yang mewarnai hidupku dengan merah muda.

                Galaksi Samudera. Aku rindu.

Di sinilah aku, membawa sekeranjang bunga dan berjuta-juta doa untuk yang terlelap di bawah sana. Aku mengusap batu nisan atas nama Galaksi Samudera. Aku terisak di samping pusara itu. Setelah memanjatkan doa aku menaburkan bunga di atas makam itu, untuk Pingkyku tersayang.  Tak ada pulang bersama sekarang, tak ada coklat yang manis, tak ada warna merah muda yang mewarnai hariku. Semuanya terasa hampa.

                Sebuah usapan di puncak kepalaku membuat aku tersentak kaget. Aku mendongak dan menatap mata itu. “Ayo, tidak baik meratapi orang yang sudah berpulang. Kamu harus ikhlas, dia pasti bahagia di sana!” ucapnya sambil tersenyum.

                Tanpa aba-aba aku memeluknya, “Terima kasih sudah berjuang untuk Galaksi dan berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan aku sama kamu, Rez.” Ucapku di sela tangisanku.

                Dia kakak kelasku sewaktu SMA, Reza. Dia adalah seorang dokter sekaligus orang yang selalu menguatkanku ketika Galaksi berada di masa-masa kritisnya. Dia melamarku beberapa bulan lalu, dan kini aku mencoba memantapkan hati. Galaksi memang sosok yang sangat aku sayang, tapi dia masa lalu. Aku harus membuka lembaran baru untuk menyembuhkan luka ini. Dan kini, aku memutuskan mengukir nama Reza di hatiku.

                

Rabu, 04 Desember 2019

Janji Satya

Janji Satya

Karya : Putri Andini


            Dia... Satya Wicaksono. Umurnya lebih tua 4 tahun dariku. Kami saling jatuh cinta. Aneh memang, karena umur kami yang terpaut lumayan jauh. Tapi cinta tak memandang usia kan?
            Aku biasa memnaggil Satya dengan panggilan abang. Karena aku merasa tak sopan saja jika memanggil namanya langsung. Sedangkan satya memanggilku dengan sebutan nama saja. Menyebalkan. Mengapa? Karena setiap ia memanggilku, aku berasa seperti hewan yang menggonggong. Aku selalu cemberut bila Satya memanggilku seperti itu, dan berakhir tawa Satya yang memekakkan telinga. Bang Sat emang.

            Kami sudah 3 tahun bersama. Saat itu aku masih kelas 1 SMA dan Satya baru masuk kuliah. Selama 3 tahun itu, dia selalu berjanji padaku.
“Kalau aku udah lulus kuliah, aku mau cari kerja. Kalau udah mapan aku mau membangun komitmen sama kamu.” ucapnya sembari mentapku yang sedang lahap makan batagor. Bayangkan betapa malunya aku, aku masih memakai seragam SMA, sehingga semua orang kompak menatap ke arah kami berdua. Ada yang berdehem menggoda, tersindir khususnya sepasang karyawan di samping kami, ada pula yang merasa iri dan memberi kode pada kekasihnya.

            Aku langsung menundukkan kepala menyadari banyaknya pasang mata mentap ke arah kami dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedangkan Satya? Jangan ditanya. Dia sedang bergaya layaknya selebriti yang sedang diwawancara. Hadeuhhh... Satya, Satya.
Ia mendekatkan wajahnya padaku, membuat diriku berspekulasi yang tidak-tidak. Sampai suara bisik nan lembut itu terdengar di telingaku.

“Aku janji!” ucapnya mantap, membuatku tak berkutik.

            Aku menoleh, mentap kedua manik hitam itu. Ada kesungguhan di sana. Kedua mata Satya hanya mengarah padaku. Jangan lupakan senyumnya yang mampu membuat pertahananku roboh seketika.

Satya berjanjilah jangan ingkar.

           Besoknya kami harus berpisah karena kami mempunyai kesibukkan masing-masing. Satya masih sibuk dengan urusan kuliahnya dan sangat sibuk memikirkan Satya. Memang terdengar berlebihan, tapi itu nyata adanya. Pada nyatanya inikan ciri orang jatuh cinta?

            Teman-temanku sudah beberapa kali menyadarkanku karena sedari tadi aku terus melamun. Aku masih teringat janji yang Satya ucapkan. Ada rasa takut bila Satya mengingkari janjinya dan meninggalkanku.

            Segera kutepis pemikiran buruk itu. Namun, akan terlalu berat untukku jika spekulasi buruk itu benar-benar terjadi. Aku tak sanggup jika Satya benar-benar meninggalkannku. Hatiku terlanjur dicuri olehnya. Oleh semua hal manis yang ia lakukan dan ucapkan padaku.
Satya bolehkah aku egois?

Menginginkanmu hanya untuk untukku.

            Setelah pulang sekolah, aku segera membersihkan diri dan mengecek ponselku, barangkali Satya mengirim satu kabar saja.

Ting!

Satu pesan masuk ke dalam notifikasi ponselku. Mataku membola ketika melihat nama pengirim yang tertera di layar. Satya!

Dari     : Satya
Untuk  : Saya
Ada yang kangen sama abang ganteng ini? J
Untuk : Satya
                                                                                                                                                                   Dari  : Saya
Aku kangen sama Bang Sat! :D


Aku mengulum senyum, menahan tawa menunggu balasan dari Satya.



Dari     : Satya
Untuk  : Saya
Calon istri durhaka! Awas kamu Jing!

           
            Aku mendengus kesal, selalu seperti ini. Apa aku harus ganti nama dari Jingga menjadi Cantika agar dipanngil cantik? Yah, Satya berhasil membuatku menjadi hewan menggonggong. Kemudian ada satu ide jahil melintas di otakku. Aku tertwa setan dalam hati dalam mulai melancarkan balasan untuk Satya.
                                                                                                                              
Untuk : Satya
                                                                                                                                                                Dari    : Saya
Ya udah tinggal cari abang pacar
yang lebih ganteng kalau gitu!


            Seringai nakal terbit di bibirku. Kalau Satya ada di sini pasti ia akan marah-marah atau merajuk padaku. Tawaku lepas seketika saat mengingat sifat possesivenya itu.


Dari    : Satya
Untuk  : Saya
JANGAN!!! AWAS KALAU BERANI!
Untuk  : Satya
                                                                                                                                                                 Dari   : Saya
Aku akan berani kalau kamu
 berani ingkar janji Satya. Jangan
janji kalau tak bisa menepati


             Bersamaan dengan pesan terakhirku terkirim, saat itu juga Satya offline. Mungkin sedang ada dosen atau entahlah. Lebih baik kupejamkan mata untuk mengobati lelah dan rindu ini.


•••


                Hari ini aku resmi lulus SMA, aku dan Satya putus kontak dalam waktu yang lama. Kulihat roomchat aku dan Satya beberapa tahun lalu, pesan terakhir yang kukirim belum Satya baca hingga tahun ini.

            Jangan tanya bangaimana perasaanku. Berantakan sekali. Rasanya Satya benar-benar menghilang. Dan parahnya rindu ini semakin menjadi. Bagaimana Satya akan hadir di acara kelulusanku jika kami sudah tak bertemu hampir 1 tahun 5 bulan 16 hari ini.

Satya jangan ingkar.

Satya jangan pergi.

Satya tepati janjimu.

            Di hari itu tangisku tak terbendung lagi dan rasa kehilangan semakin merajalela. Untuk pertama kalinya diriku patah hati oleh seorang lelaki. Dan lelaki itu yang kucintai dan baru saja pergi meninggalkan semua janji yang dijanjikkannya sendiri.

Satya ingkar janji.

4 tahun kemudian...

            Tepat saat acara wisudaku selesai, dengan tangan masih memegang toga dan sebuket bunga dari orang tuaku, aku menghampiri sahabat-sahabatku yang sedang mengabadikan momen ini. Senyum merekah itu tak pernah luntur dari mereka.


                Tiba-tiba seorang lelaki dengan pakaian rapih seperti orang kantoran menghadang langkahku. Senyumku luntur saat melihat wajah lelaki itu. Kuperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala yang berakhir di paras tampannya yang tampak lebih terurus, sepertinya dia lebih bahagia saat tak bersamaku. Memikirkannya pun sudah membuat hatiku ketar-ketir emosi, enak saja dia hidup bahagia sedangkan aku menderita karena susah melupakannya.

“Hai!” sapanya, memecahkan perhatianku.

            Cukup sudah! Aku menurunkan egoku dan berancang-ancang memeluknya. Tapi sebuah kertas tebal dengan sampul berwarna merah muda dihiasi pita lucu di tangan lelaki itu menghentikkan aksiku. Aku mematung saat menerimanya. Aku tak terlalu bodoh untuk mengartikan benda ini. Sebuah undangan pernikahan yang bertuliskan lelaki di hadapanku dan seorang wanita yang sudah merebut pasanganku.

“Apa kabar Jingga?” tanyanya, terdengar basa-basi.

            Jingga? Terasa asing sekali saat dia menyebut namaku seperti itu. Aku memaksakan senyum, sebuah senyum kecut. Tapi aku hanya diam, tak merespon pertanyaan yang tak lebih dari omong kosong itu. Menyadari caraku tersenyum dan aku yang terdiam, sepertinya lelaki itu mulai sadar apa yang terjadi.

“Maaf aku-“

“Stop!” potongku cepat. Apa aku terlihat bodoh saat hendak memeluknya tadi? Sedang dia tak menginginkanku lagi? Apa-apaan ini? Jika ini adalah acara reality show aku akan memilih melambaikan tangan ke kamera daripada ini memang terjadi.

            Dengan gerakan cepat aku merebut undangan sialan itu dari tangannya. Aku berlari menjauh kemudian berhenti dan berbalik menatapnya berang. “BANGSAT!!!” makiku dengan intonasi kencang penuh emosi.