P I
N G K Y T E R S A Y A N G
Karya : Putri Andini
Namanya
Galaksi Samudera. Biasa dipanggil Galak. Dari namya sih, cowok banget. Iya gak
sih? Eitsss... Jangan ngarep! Dia bukan cowok most wanted, cool, charming,
ketua osis, atau idaman cewek kebanyakan. Dia sanggup ngebuat hidupku berputar
180˚, dengan warna favoritnya. Warna merah
muda.
Badan
L-Men hati Bebelac.
“Ren,
kok kamu bisa suka sama Galak sih?!” tanya Niken, sahabatku.
Niken
adalah sahabat baruku di sekolah ini. Gadis di sampingku ini selalu bergidik
ngeri melihat aku betapa menyukai Galaksi , lelaki yang menyukai warna merah
muda. Menurutku wajar kok kalau lelaki suka warna merah muda, perempuan juga
banyak yang menyukai warna hitam. Jadi warna bukanlah masalah besar, mungkin Galaksi
menyukai warna merah muda alias pink karena warna itu melambangkan cinta.
“Aku
suka semua yang ada pada diri Galak. Terserah dia mau suka warna pink atau
apalah yang penting dia nggak transgender.” Jawabku sama seperti yang lalu-lalu
saat semua orang bertanya sama persis dengan apa yang Niken tanyakan.
“Bisa
jawab selain itu gak?” tanya Niken putus asa mendengar jawabanku.
Aku
mengernyit tak paham, “Nggak!” jawabku final, membuat Niken membuang nafas
lelah.
“Aduh
Rena! Bahkan Reza yang sempurna bin ganteng aja naksir kamu! Dan... Galak? Kamu
serius?” cecar Niken membuatku memutar mata malas. Kenapa dia mencampuri urusan
asmaraku?
“Emangnya
kalau aku suka Gal-“
Ucapanku
terpotong saat ada seseorang yang menyapaku dari kejauhan. “Rena!” panggil orang
itu sambil melambaikan tangan. Kompak aku dan Niken melempar tatapan kami ke
sumber suara. Tak bisa dipungkiri aku dan Niken membeku, terlihat di sana
lelaki yang sedang kami bicarakan sedang tersenyum begitu manis ke arahku. Yah,
dia Galak! Aku melotot ke arah Niken agar sahabatku itu tak bebicara apa-apa
pada Galak.
“Eh,
Galak! Ada apa?” tanyaku mengulum senyum, menyembunyikan kegugupanku karena
takut Galaksi mendengar obrolan kami.
Pandanganku
menjelajah ke seluruh pakaian yang dipakai Galaksi. Biasa, hari ini ia memakai
jaket berwarna merah muda dengan gambar kelici imut di sisinya. Tak lupa, tas,
sepatu, gelang, semuanya berwarna merah muda, kecuali seragam tentunya.
Penampilan Galaksi yang mencolok membuat teman-teman di sekitarku kompak
menahan tawa
“Mmm...
Pulang sekolah, kita pulang bareng lagi yah?” tanyanya sambil memainkan gambar
kelinci yang menempel di jaket merah mudanya.
Inilah
kebiasaanku bersama Galak, berangkat dan pulang sekolah bersama. Kebiasaan
inilah yang membuatku lebih dekat dalam mengenal sosok Galak. Hingga timbul
perasaan yang mampu membuat semua orang di dunia ini diabetes. Cinta. Perasaan
ini sangat manis namun sulit diungkapkan dan akan terasa pahit secara
bersamaan.
“Gak
diminta juka kan udah biasa Pingky!” jawabku lembut, sedangakan Galaksi
meringis malu.
“Iya
juga yah!” sahutnya masih memainkan benda berwarna merah muda itu.
Satu
hal yang harus kalian tahu. Aku dan Galaksi tidak berpacaran. Sakit? Tentu
saja. Panggilan ‘Pingky’ itu adalah murni keinginanku untuk memanggil Galaksi
dengan sebutan istimewa. Sebutan ini terbesit di pikiranku saat pertama kali
mengenal Galak. Miris. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Tak apa, berteman pun
sudah membuatku sangat senang.
“Ya
udah aku tung-“
“Nggak!”
ucap Niken tiba-tiba, memotong ucapanku. Niken menatap Galaksi garang, membuat
Galaksi mengernyit tak suka.
Alisku
mengkerut bingung dan memandang Niken dengan tatapan yang menyiratkan. “Apa
lagi ini?!”
Niken
mengedip-ngedipkan matanya padaku. Sekarang aku paham apa maksud Niken dan
batinku tiba-tiba was-was, awas saja kalau Niken membuat Galaksi sakit hati.
Aku akan sangat marah pada Niken. Galaksi itu perasa dan harus diperlakukan
selembut mungkin. Hati yang bagai kapas itu ingin aku lindungi sepenuh hati.
“Rena
mau beli novel baru sama aku! Jadi, kamu pulang sendiri aja!” lanjut Niken
membuatku bernafas lega karena ucapannya tak menyiratkan cacian pedas untuk Galaksi.
Sekarang
aku was-was lagi menunggu respon Galaksi. Aku terkejut. Galaksi tampak murung
membuat diriku merasa bersalah. Melihat wajah mendung di hadapanku membuatku
memutar otak untuk membujuknya. “Maaf ya Pingky, besok-besok kan bisa?” bujukku
dengan nada yang halus.
Galaksi
menundukkankepalanya lalu menatap ke arahku. Oh ya ampun! Jangan katakan jika
Galaksi menangis?
“Ya udah, gak apa! Aku balik ke
kelas dulu ya Ren, Nik!” pamit Galaksi, kemudian berlalu entah ke mana,
mengabaikan olokkan, cacian dan makian para siswa di sepanjang koridor.
Setelah
Galaksi benar-benar pergi, aku langsung memandang tajam Niken. “Lo apa-apaan
sih Nik?!” bentakku membuat Niken diam. Untuk pertama kalinya aku membentak
Niken.
Kemudian,
aku pergi dari hadapan Niken dengan perasaan bercampur aduk. Aku tak tahu
mengapa Niken begitu gigih membuat Galaksi dan aku menjauh. Aku hampir
menyangka jika Niken mempunyai perasaan khusus pada Galaksi. Namun, semua
spekulasi buruk itu aku enyahkan seketika saat Niken menyatakan jika ia tak
mempunyai perasaan pada Galaksi. Saat itu juga aku dapat bernafas lega.
Setidaknya kami tidak menyukai orang yang sama.
Tapi
hari ini aku begitu muak pada Niken. Galaksi menangis. Hatiku begitu sakit
melihatnya, seolah aku dapat merasa apa yang Galaksi rasakan. Walaupun
masalahnya sangat kecil, tapi jika hati Galaksi tersakiti aku tak bisa tinggal
diam. Entahlah, lelaki penyuka warna merah muda itu begitu mendominasi hidupku
dan... Hatiku.
Aku
bermaksud meminta maaf ke kelas Galaksi sepulang sekolah. Dan mengajaknya
pulang bersama. Masa bdod dengan Niken. Sudah kuperingatkan sedari dulu jika
hati Galaksi itu mudah terluka, tapi Niken seolah menulikan telinganya.
Menyebalkan.
▪▪▪
Kukemasi
buku-buku milikku ke dalam tas. Sesekali aku melirik Niken yang masih menunduk
diam di mejanya. Apa aku terlalu berlebihan? Niken terlihat berantakan sekali.
Ah! Kenapa jadi seperti ini? Aku tak bermaksud menyakiti hati Niken tadi, tapi
ah, sudahlah.
Ku
melirik jam di pergelangan tanganku. Mungkin saat ini sedang berada di
perpustakaan, mengingat kebiasaan rutinnya meminjam buku sepulang sekolah ke
perpustakaan. Aku berencana memberikan coklat sebagai permintaan maafku pada
Galaksi. Dia pasti suka makanan manis ini.
Baru
aku akan melangkah pergi, aku merasakan pergelangan tanganku dicekal seseorang.
“Ren! Jangan ke perpustakaan!” ucap Niken lirih.
Aku
mulai tersulut emosi, “Lepas Nik! Aku mau minta maaf sama Galaksi! Bahkan kamu
yang bersalah pun gak mau minta maaf kan?!” ucapku geram.
“Bukan!
Kamu boleh temuin Galaksi tapi jangan sekarang!” ucapnya dengan wajah yang
memucat, aku pun merasakan jika tangan Niken mendingin di pergelangan tanganku.
Tapi aku tak peduli, dalam satu hentakkan tanganku terlepas dari cekalan Niken.
Aku menatap tajam Niken sebelum pergi meniggalkannya.
Apa
maksud Niken melarangku? Aku benar-benar tak mengerti.
Aku
sampai di ruang perpustakaan yang sepi. Benar-benar sepi seperti tak ada
seorang pun di sini. Apa Galaksi sudah pulang? Aku melihat jam di pergelangan
tanganku, biasanya Galaksi tak akan pulang secepat ini.
Aku
memutuskan untuk menyusuri rak demi rak untuk mencari keberadaan Galaksi. Aku
mulai cemas karena Galaksi tak kunjung menampakkan diri. Ah! Mungkin memang
sudah pulang. Di saat aku akan melangkah, tiba-tiba terdengar sayup-sayup dua
orang yang sepertinya tengah berbicara.
Suaranya
berasal dari sudut perpustakaan yang gelap dengan sedikit cahaya remang-remang.
Jujur, aku merasa takut. Tapi rasa penasaranku lebih besar dari ketakutan itu.
Perlahan,
dengan langkah mengendap-ngendap aku menghampiri sumber suara itu. Dan alangkah
terkejutnya aku ketika melihat apa yang terjadi di hadapanku.
“Galaksi!!!”
jeritku histeris membuat dua orang itu terkejut dan melepas pelukannya.
Wajah
Galaksi mendadak pucat pasi. Dan siapa gadis itu? Aku merasa pernah melihatnya.
Tapi aku tak peduli, karena entah mengapa denyut yang menyakitkan ini begitu
menggerogoti hatiku. Berhasil! Galaksi berhasil membuat setetes air mata
melawati pipiku. Mataku memerah perih. Kecewa? Sakit? Marah? Jangan tanyakan
itu sekarang karena aku tak sanggup menjawabnya saat ini. Ini terlalu
menyakitkan.
“Aku
kecewa, aku pikir kamu... .” ucapku sambil tertawa sumbang dengan air mata
menggenang di pelupuk mataku. Sakit sekali saat aku mencoba bicara saat ini.
“Gak
penting!” setelah mengucapkan itu aku langsung berlari dari dua orang yang
telah menyakitiku itu.
Toh,
Galaksi tak akan mengejarkanku. Dan aku yakin dia kekasih Galaksi. Untuk apa
aku kecewa? Memangnya siapa aku? Ini konyol sekaligus menyakitkan. Aku
meraung-raung sambil berlari di sepanjang koridor sekolah yang untungnya sudah
sepi, hingga aku tak sadar jika ada seseorang di hadapanku.
Bugh.
“Awww!!!”
rintih seorang yang tak sengaja kutabrak.
“Rena?
Astaga! Kamu nggak papa?” Niken mendekapku erat. Aku menangis sejadi-jadinya.
Entah
sudah berapa lama aku menangis. Akhirnya aku mengusap mataku yang sembab. Aku
mendongak menatap Niken. “Maafin aku Nik! Maafin aku! Maaf!” ucapku kembali
terisak.
Sepertinya
Niken sudah tahu apa yang terjadi padaku. “Jadi kamu udah liat dan denger? Aku
harap perasaan kamu sama Galaksi bisa hilang detik ini juga!” ucap Niken tanpa
basa-basi.
Aku
tergelak dan langsung menatap mata Niken lekat. “Kenapa harus saat ini Nik?”
Niken
menghela nafas berat, “Kamu liat Galaksi meluk perempuan?” tanya Niken, aku
mengangguk cepat. Hatiku merasa sakit lagi saat mengingat itu.
“Namanya
Dewi. Dia hamil! Aku denger obrolan mereka sebelum kamu. Tadinya aku mau minta
maaf segera sama Galaksi, aku ikutin dia ke perpustakaan dan aku gak sengaja
denger omongan mereka. Dan aku rasa ini keputusan yang tepat, Ren!”
Aku
mematung. Niken melanjutkan ucapannya, “Galaksi harus tanggung jawab sama Dewi
dan kamu harus ikhlas demi kamu sendiri juga anak Galaksi dan Dewi.” Niken
berterus terang.
Ucapan-ucapan yang dilontarkan
Niken bagai petir di siang hari. Aku tak percaya. Tapi mengingat interaksi Galaksi
dan Dewi tadi meyakinkan semua yang diucapkan Niken. Perlahan-lahan ucapan
Niken tak terdengar, kepalaku terasa berat memproses semuanya. Mataku mulai
meremang dan gelap.
▪▪▪
Sudah
10 tahun berlalu ...
Hari
ini ulang tahunku yang ke-26. Harusnya aku bahagia. Iya harusnya. Tapi tidak
seperti tahun-tahun yang lalu. Sial! Aku masih merindukan sosok yang mewarnai
hidupku dengan merah muda.
Galaksi Samudera. Aku rindu.
Di sinilah aku,
membawa sekeranjang bunga dan berjuta-juta doa untuk yang terlelap di bawah
sana. Aku mengusap batu nisan atas nama Galaksi Samudera. Aku terisak di
samping pusara itu. Setelah memanjatkan doa aku menaburkan bunga di atas makam
itu, untuk Pingkyku tersayang. Tak ada
pulang bersama sekarang, tak ada coklat yang manis, tak ada warna merah muda
yang mewarnai hariku. Semuanya terasa hampa.
Sebuah
usapan di puncak kepalaku membuat aku tersentak kaget. Aku mendongak dan
menatap mata itu. “Ayo, tidak baik meratapi orang yang sudah berpulang. Kamu
harus ikhlas, dia pasti bahagia di sana!” ucapnya sambil tersenyum.
Tanpa
aba-aba aku memeluknya, “Terima kasih sudah berjuang untuk Galaksi dan berikan
aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan aku sama kamu, Rez.” Ucapku di sela
tangisanku.
Dia kakak kelasku sewaktu SMA,
Reza. Dia adalah seorang dokter sekaligus orang yang selalu menguatkanku ketika
Galaksi berada di masa-masa kritisnya. Dia melamarku beberapa bulan lalu, dan
kini aku mencoba memantapkan hati. Galaksi memang sosok yang sangat aku sayang,
tapi dia masa lalu. Aku harus membuka lembaran baru untuk menyembuhkan luka
ini. Dan kini, aku memutuskan mengukir nama Reza di hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar