Rabu, 04 Desember 2019

Janji Satya

Janji Satya

Karya : Putri Andini


            Dia... Satya Wicaksono. Umurnya lebih tua 4 tahun dariku. Kami saling jatuh cinta. Aneh memang, karena umur kami yang terpaut lumayan jauh. Tapi cinta tak memandang usia kan?
            Aku biasa memnaggil Satya dengan panggilan abang. Karena aku merasa tak sopan saja jika memanggil namanya langsung. Sedangkan satya memanggilku dengan sebutan nama saja. Menyebalkan. Mengapa? Karena setiap ia memanggilku, aku berasa seperti hewan yang menggonggong. Aku selalu cemberut bila Satya memanggilku seperti itu, dan berakhir tawa Satya yang memekakkan telinga. Bang Sat emang.

            Kami sudah 3 tahun bersama. Saat itu aku masih kelas 1 SMA dan Satya baru masuk kuliah. Selama 3 tahun itu, dia selalu berjanji padaku.
“Kalau aku udah lulus kuliah, aku mau cari kerja. Kalau udah mapan aku mau membangun komitmen sama kamu.” ucapnya sembari mentapku yang sedang lahap makan batagor. Bayangkan betapa malunya aku, aku masih memakai seragam SMA, sehingga semua orang kompak menatap ke arah kami berdua. Ada yang berdehem menggoda, tersindir khususnya sepasang karyawan di samping kami, ada pula yang merasa iri dan memberi kode pada kekasihnya.

            Aku langsung menundukkan kepala menyadari banyaknya pasang mata mentap ke arah kami dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedangkan Satya? Jangan ditanya. Dia sedang bergaya layaknya selebriti yang sedang diwawancara. Hadeuhhh... Satya, Satya.
Ia mendekatkan wajahnya padaku, membuat diriku berspekulasi yang tidak-tidak. Sampai suara bisik nan lembut itu terdengar di telingaku.

“Aku janji!” ucapnya mantap, membuatku tak berkutik.

            Aku menoleh, mentap kedua manik hitam itu. Ada kesungguhan di sana. Kedua mata Satya hanya mengarah padaku. Jangan lupakan senyumnya yang mampu membuat pertahananku roboh seketika.

Satya berjanjilah jangan ingkar.

           Besoknya kami harus berpisah karena kami mempunyai kesibukkan masing-masing. Satya masih sibuk dengan urusan kuliahnya dan sangat sibuk memikirkan Satya. Memang terdengar berlebihan, tapi itu nyata adanya. Pada nyatanya inikan ciri orang jatuh cinta?

            Teman-temanku sudah beberapa kali menyadarkanku karena sedari tadi aku terus melamun. Aku masih teringat janji yang Satya ucapkan. Ada rasa takut bila Satya mengingkari janjinya dan meninggalkanku.

            Segera kutepis pemikiran buruk itu. Namun, akan terlalu berat untukku jika spekulasi buruk itu benar-benar terjadi. Aku tak sanggup jika Satya benar-benar meninggalkannku. Hatiku terlanjur dicuri olehnya. Oleh semua hal manis yang ia lakukan dan ucapkan padaku.
Satya bolehkah aku egois?

Menginginkanmu hanya untuk untukku.

            Setelah pulang sekolah, aku segera membersihkan diri dan mengecek ponselku, barangkali Satya mengirim satu kabar saja.

Ting!

Satu pesan masuk ke dalam notifikasi ponselku. Mataku membola ketika melihat nama pengirim yang tertera di layar. Satya!

Dari     : Satya
Untuk  : Saya
Ada yang kangen sama abang ganteng ini? J
Untuk : Satya
                                                                                                                                                                   Dari  : Saya
Aku kangen sama Bang Sat! :D


Aku mengulum senyum, menahan tawa menunggu balasan dari Satya.



Dari     : Satya
Untuk  : Saya
Calon istri durhaka! Awas kamu Jing!

           
            Aku mendengus kesal, selalu seperti ini. Apa aku harus ganti nama dari Jingga menjadi Cantika agar dipanngil cantik? Yah, Satya berhasil membuatku menjadi hewan menggonggong. Kemudian ada satu ide jahil melintas di otakku. Aku tertwa setan dalam hati dalam mulai melancarkan balasan untuk Satya.
                                                                                                                              
Untuk : Satya
                                                                                                                                                                Dari    : Saya
Ya udah tinggal cari abang pacar
yang lebih ganteng kalau gitu!


            Seringai nakal terbit di bibirku. Kalau Satya ada di sini pasti ia akan marah-marah atau merajuk padaku. Tawaku lepas seketika saat mengingat sifat possesivenya itu.


Dari    : Satya
Untuk  : Saya
JANGAN!!! AWAS KALAU BERANI!
Untuk  : Satya
                                                                                                                                                                 Dari   : Saya
Aku akan berani kalau kamu
 berani ingkar janji Satya. Jangan
janji kalau tak bisa menepati


             Bersamaan dengan pesan terakhirku terkirim, saat itu juga Satya offline. Mungkin sedang ada dosen atau entahlah. Lebih baik kupejamkan mata untuk mengobati lelah dan rindu ini.


•••


                Hari ini aku resmi lulus SMA, aku dan Satya putus kontak dalam waktu yang lama. Kulihat roomchat aku dan Satya beberapa tahun lalu, pesan terakhir yang kukirim belum Satya baca hingga tahun ini.

            Jangan tanya bangaimana perasaanku. Berantakan sekali. Rasanya Satya benar-benar menghilang. Dan parahnya rindu ini semakin menjadi. Bagaimana Satya akan hadir di acara kelulusanku jika kami sudah tak bertemu hampir 1 tahun 5 bulan 16 hari ini.

Satya jangan ingkar.

Satya jangan pergi.

Satya tepati janjimu.

            Di hari itu tangisku tak terbendung lagi dan rasa kehilangan semakin merajalela. Untuk pertama kalinya diriku patah hati oleh seorang lelaki. Dan lelaki itu yang kucintai dan baru saja pergi meninggalkan semua janji yang dijanjikkannya sendiri.

Satya ingkar janji.

4 tahun kemudian...

            Tepat saat acara wisudaku selesai, dengan tangan masih memegang toga dan sebuket bunga dari orang tuaku, aku menghampiri sahabat-sahabatku yang sedang mengabadikan momen ini. Senyum merekah itu tak pernah luntur dari mereka.


                Tiba-tiba seorang lelaki dengan pakaian rapih seperti orang kantoran menghadang langkahku. Senyumku luntur saat melihat wajah lelaki itu. Kuperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala yang berakhir di paras tampannya yang tampak lebih terurus, sepertinya dia lebih bahagia saat tak bersamaku. Memikirkannya pun sudah membuat hatiku ketar-ketir emosi, enak saja dia hidup bahagia sedangkan aku menderita karena susah melupakannya.

“Hai!” sapanya, memecahkan perhatianku.

            Cukup sudah! Aku menurunkan egoku dan berancang-ancang memeluknya. Tapi sebuah kertas tebal dengan sampul berwarna merah muda dihiasi pita lucu di tangan lelaki itu menghentikkan aksiku. Aku mematung saat menerimanya. Aku tak terlalu bodoh untuk mengartikan benda ini. Sebuah undangan pernikahan yang bertuliskan lelaki di hadapanku dan seorang wanita yang sudah merebut pasanganku.

“Apa kabar Jingga?” tanyanya, terdengar basa-basi.

            Jingga? Terasa asing sekali saat dia menyebut namaku seperti itu. Aku memaksakan senyum, sebuah senyum kecut. Tapi aku hanya diam, tak merespon pertanyaan yang tak lebih dari omong kosong itu. Menyadari caraku tersenyum dan aku yang terdiam, sepertinya lelaki itu mulai sadar apa yang terjadi.

“Maaf aku-“

“Stop!” potongku cepat. Apa aku terlihat bodoh saat hendak memeluknya tadi? Sedang dia tak menginginkanku lagi? Apa-apaan ini? Jika ini adalah acara reality show aku akan memilih melambaikan tangan ke kamera daripada ini memang terjadi.

            Dengan gerakan cepat aku merebut undangan sialan itu dari tangannya. Aku berlari menjauh kemudian berhenti dan berbalik menatapnya berang. “BANGSAT!!!” makiku dengan intonasi kencang penuh emosi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar