Janji Satya
Karya : Putri Andini
Dia... Satya Wicaksono. Umurnya
lebih tua 4 tahun dariku. Kami saling jatuh cinta. Aneh memang, karena umur
kami yang terpaut lumayan jauh. Tapi cinta tak memandang usia kan?
Aku biasa memnaggil Satya dengan
panggilan abang. Karena aku merasa tak sopan saja jika memanggil namanya
langsung. Sedangkan satya memanggilku dengan sebutan nama saja. Menyebalkan.
Mengapa? Karena setiap ia memanggilku, aku berasa seperti hewan yang
menggonggong. Aku selalu cemberut bila Satya memanggilku seperti itu, dan
berakhir tawa Satya yang memekakkan telinga. Bang Sat emang.
Kami sudah 3 tahun bersama. Saat itu
aku masih kelas 1 SMA dan Satya baru masuk kuliah. Selama 3 tahun itu, dia
selalu berjanji padaku.
“Kalau aku
udah lulus kuliah, aku mau cari kerja. Kalau udah mapan aku mau membangun
komitmen sama kamu.” ucapnya sembari mentapku yang sedang lahap makan batagor.
Bayangkan betapa malunya aku, aku masih memakai seragam SMA, sehingga semua
orang kompak menatap ke arah kami berdua. Ada yang berdehem menggoda, tersindir
khususnya sepasang karyawan di samping kami, ada pula yang merasa iri dan
memberi kode pada kekasihnya.
Aku langsung menundukkan kepala
menyadari banyaknya pasang mata mentap ke arah kami dengan pandangan yang sulit
diartikan. Sedangkan Satya? Jangan ditanya. Dia sedang bergaya layaknya
selebriti yang sedang diwawancara. Hadeuhhh... Satya, Satya.
Ia
mendekatkan wajahnya padaku, membuat diriku berspekulasi yang tidak-tidak.
Sampai suara bisik nan lembut itu terdengar di telingaku.
“Aku janji!”
ucapnya mantap, membuatku tak berkutik.
Aku menoleh, mentap kedua manik
hitam itu. Ada kesungguhan di sana. Kedua mata Satya hanya mengarah padaku.
Jangan lupakan senyumnya yang mampu membuat pertahananku roboh seketika.
Satya
berjanjilah jangan ingkar.
Besoknya kami harus berpisah karena kami mempunyai kesibukkan masing-masing. Satya masih sibuk dengan urusan kuliahnya dan sangat sibuk memikirkan Satya. Memang terdengar berlebihan, tapi itu nyata adanya. Pada nyatanya inikan ciri orang jatuh cinta?
Besoknya kami harus berpisah karena kami mempunyai kesibukkan masing-masing. Satya masih sibuk dengan urusan kuliahnya dan sangat sibuk memikirkan Satya. Memang terdengar berlebihan, tapi itu nyata adanya. Pada nyatanya inikan ciri orang jatuh cinta?
Teman-temanku sudah beberapa kali
menyadarkanku karena sedari tadi aku terus melamun. Aku masih teringat janji
yang Satya ucapkan. Ada rasa takut bila Satya mengingkari janjinya dan
meninggalkanku.
Segera kutepis pemikiran buruk itu.
Namun, akan terlalu berat untukku jika spekulasi buruk itu benar-benar terjadi.
Aku tak sanggup jika Satya benar-benar meninggalkannku. Hatiku terlanjur dicuri
olehnya. Oleh semua hal manis yang ia lakukan dan ucapkan padaku.
Satya
bolehkah aku egois?
Menginginkanmu
hanya untuk untukku.
Setelah pulang sekolah, aku segera
membersihkan diri dan mengecek ponselku, barangkali Satya mengirim satu kabar
saja.
Ting!
Satu pesan
masuk ke dalam notifikasi ponselku. Mataku membola ketika melihat nama pengirim
yang tertera di layar. Satya!
Dari :
Satya
Untuk :
Saya
Ada yang kangen sama abang ganteng ini? J
Untuk :
Satya
Dari : Saya
Aku kangen
sama Bang Sat! :D
Aku mengulum senyum, menahan tawa menunggu
balasan dari Satya.
Dari :
Satya
Untuk :
Saya
Calon istri durhaka! Awas kamu Jing!
Aku mendengus kesal, selalu seperti
ini. Apa aku harus ganti nama dari Jingga menjadi Cantika agar dipanngil
cantik? Yah, Satya berhasil membuatku menjadi hewan menggonggong. Kemudian ada
satu ide jahil melintas di otakku. Aku tertwa setan dalam hati dalam mulai
melancarkan balasan untuk Satya.
Untuk
: Satya
Dari : Saya
Ya
udah tinggal cari abang pacar
yang
lebih ganteng kalau gitu!
Seringai nakal terbit di bibirku.
Kalau Satya ada di sini pasti ia akan marah-marah atau merajuk padaku. Tawaku
lepas seketika saat mengingat sifat possesivenya
itu.
Dari : Satya
Untuk : Saya
JANGAN!!!
AWAS KALAU BERANI!
Untuk : Satya
Dari : Saya
Aku
akan berani kalau kamu
berani ingkar janji Satya. Jangan
janji
kalau tak bisa menepati
Bersamaan dengan pesan terakhirku
terkirim, saat itu juga Satya offline. Mungkin
sedang ada dosen atau entahlah. Lebih baik kupejamkan mata untuk mengobati
lelah dan rindu ini.
•••
Hari
ini aku resmi lulus SMA, aku dan Satya putus kontak dalam waktu yang lama.
Kulihat roomchat aku dan Satya
beberapa tahun lalu, pesan terakhir yang kukirim belum Satya baca hingga tahun
ini.
Jangan tanya bangaimana perasaanku.
Berantakan sekali. Rasanya Satya benar-benar menghilang. Dan parahnya rindu ini
semakin menjadi. Bagaimana Satya akan hadir di acara kelulusanku jika kami
sudah tak bertemu hampir 1 tahun 5 bulan 16 hari ini.
Satya
jangan ingkar.
Satya
jangan pergi.
Satya
tepati janjimu.
Di hari itu tangisku tak terbendung
lagi dan rasa kehilangan semakin merajalela. Untuk pertama kalinya diriku patah
hati oleh seorang lelaki. Dan lelaki itu yang kucintai dan baru saja pergi
meninggalkan semua janji yang dijanjikkannya sendiri.
Satya
ingkar janji.
4
tahun kemudian...
Tepat saat acara wisudaku selesai,
dengan tangan masih memegang toga dan sebuket bunga dari orang tuaku, aku
menghampiri sahabat-sahabatku yang sedang mengabadikan momen ini. Senyum
merekah itu tak pernah luntur dari mereka.
Tiba-tiba seorang lelaki dengan
pakaian rapih seperti orang kantoran menghadang langkahku. Senyumku luntur saat
melihat wajah lelaki itu. Kuperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala yang
berakhir di paras tampannya yang tampak lebih terurus, sepertinya dia lebih
bahagia saat tak bersamaku. Memikirkannya pun sudah membuat hatiku ketar-ketir
emosi, enak saja dia hidup bahagia sedangkan aku menderita karena susah
melupakannya.
“Hai!”
sapanya, memecahkan perhatianku.
Cukup sudah! Aku menurunkan egoku
dan berancang-ancang memeluknya. Tapi sebuah kertas tebal dengan sampul
berwarna merah muda dihiasi pita lucu di tangan lelaki itu menghentikkan
aksiku. Aku mematung saat menerimanya. Aku tak terlalu bodoh untuk mengartikan
benda ini. Sebuah undangan pernikahan yang bertuliskan lelaki di hadapanku dan
seorang wanita yang sudah merebut pasanganku.
“Apa
kabar Jingga?” tanyanya, terdengar basa-basi.
Jingga? Terasa asing sekali saat dia
menyebut namaku seperti itu. Aku memaksakan senyum, sebuah senyum kecut. Tapi
aku hanya diam, tak merespon pertanyaan yang tak lebih dari omong kosong itu. Menyadari
caraku tersenyum dan aku yang terdiam, sepertinya lelaki itu mulai sadar apa
yang terjadi.
“Maaf
aku-“
“Stop!”
potongku cepat. Apa aku terlihat bodoh saat hendak memeluknya tadi? Sedang dia
tak menginginkanku lagi? Apa-apaan ini? Jika ini adalah acara reality show aku akan memilih
melambaikan tangan ke kamera daripada ini memang terjadi.
Dengan gerakan cepat aku merebut
undangan sialan itu dari tangannya. Aku berlari menjauh kemudian berhenti dan
berbalik menatapnya berang. “BANGSAT!!!” makiku dengan intonasi kencang penuh
emosi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar